Spirit Ketauhidan dalam Falsafah Pancasila

Oleh:
Dr. Fokky Fuad Wasitaatmadja

Gagasan dan ide tentang Tuhan tidak pernah lepas dari ruang berfikir manusia Indonesia. Tuhan dengan segenap eksistensinya selalu melekat dalam kosmologi manusia Indonesia, dan bahkan menjadi landasan filosofi manusia Indonesia: Pancasila. Filosofi Dasar ini meletakkan ide Tuhan sebagai Sila Pertamanya, dan menjadi causadari segenap sila yang ada di dalam Falsafah Pancasila itu sendiri.

Pancasila merupakan gagasan filosofis dalam upaya membangun sebuah bangsa. Ia terbentuk atas seikat nilai-nilai yang tumbuh dalam ruang berfikir dan berperilaku manusia Indonesia. Ia digali dari sebuah endapan nilai terdalam. Untuk melihat gagasan filosofi Pancasila kita melihat ke dalam sila yang terkandung di dalamnya. Dari 5 sila yang ada, terdapat 5 nilai yang bisa kita lihat: Nilai Ketuhanan, Nilai Kemanusiaan, Nilai Persatuan, Nilai Musyawarah (demokrasi), dan terakhir kita temukan Nilai Keadilan Sosial.

Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama dapat kita dalami dari sisi Ontologinya. Ontologi berasal dari kata otos dan logos. Otos bermakna eksistensi atau keberadaan, sedangkan logos bermakna ilmu. Jadi ontologi secara sederhana dimaknai sebagai ilmu tentang keberadaan, atau ilmu tentang hakikat atau arti terdalam atas sebuah objek tertentu. Jika dikaitkan dengan Ketuhanan dalam Pancasila maka disini kita hendak bertanya tentang hakikat-hakikat Ketuhanan, makna Ketuhanan yang terkandung dalam Falsafah Pancasila.

Nilai Ketuhanan dan Nilai Kemanusiaan dalam ruang Falsafah Pancasila diletakkan sebagai ontologi. Ia mencerminkan bagaimana hakikat manusia Indonesia selaku subjek yang sesungguhnya, sedangkan Nilai Persatuan dan Nilai Musyawarah sebagai epistemologi, ia adalah metodologi gerak aktif manusia mewujudkan sebuah kehendak yang dilakukan dengan metode berupa persatuan dan musyawarah. Diujung terdapat Nilai Keadilan Sosial sebagai aksiologi manusia Indonesia, tujuan akhir yang hendak dicapai dan dikehendaki yaitu menciptakan sebuah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Melihat Pancasila sebagai sebuah Ontologi ini menarik untuk dicermati. Apa yang kita maksudkan dengan nilai ketuhanan itu sendiri? Apakah menuju pada wujud Tuhan?

Ketuhanan bukan merujuk pada wujud Tuhan, melainkan pada sebuah pengakuan terhadap eksistensi Tuhan dalam alam berfikir manusia yang terdalam. Coba kita lihat, ia bukan wujud Tuhan, tetapi pengakuan dalam diri kita selaku manusia atas eksistensi Tuhan. Jadi bisa kita bedakan tegas bahwa wujud Tuhan berbeda dengan pengakuan terhadap Tuhan. Wujud Tuhan yang sesungguhnya tidak bisa kita ketahui. Yang mengetahui wujud Tuhan hanya Tuhan sendiri. Dia mengetahui menurut pengetahuanNya bukan pengetahuan kita.

Ketuhanan adalah sebuah kesadaran, pengakuan sadar atas rasa bertuhan dalam diri manusia. Mengakui kehadiran Tuhan dalam rasa yang paling dalam. Disinilah kita mencoba menengok ke dalam dasar hati kita yang terdalam, masih adakah Tuhan kita rasakan dalam diri kita? Sudahkah kita merasakan kehadiranNya, sehingga kita mampu melihat, bertindak, berperilaku dan bahkan berfikir untuk selalu membawa dan menyertakanNya?

Jalaluddin Rumi (1207–1273) dalam sebuah syairnya menuliskan:

“Karena cinta maka pahit berubah menjadi manis.Karena Cinta tembaga berubah menjadi emas. Karena cinta ampas menjadi sari. Karena cinta pedih menjadi obat. Karena cinta kematian berubah menjadi kehidupan. Karena cinta raja menjadi hamba”.

Rumi hakikatnya menjelaskan relasi ruhani manusia yang tertuju kepada Tuhan selalu diletakkan dalam ide dan gagasan cinta. Tuhan bukanlah sebuah entitas yang ditakuti, melainkan didekati berdasar cinta yang mendalam. Tuhan adalah Zat yang melimpahkan cintaNya kepada manusia dan alam semesta. Lalu apakah Cinta Tuhan ini berjalan sebanding dengan cinta manusia kepadaNya? Atau justru kita telah melalaikanNya?

Friedrich Nietzsche (1844–1900) sang filsuf Jerman dengan lantang menyatakan “Gott is tot” atau “Tuhan telah mati”. Mungkin ini sebuah kritik atas konsep hidup manusia yang telah dan tengah membunuh tuhan di dalam hatinya. Tentunya bukan wujud Tuhan dalam kategori ontologis (Tuhan yang sejati), tetapi Tuhan dalam ranah epistemologi: Tuhan di dalam akal dan jiwa manusia yang sengaja atau tidak telah hilang atau mati. Jiwa tak berTuhan karena kita telah mengganti Tuhan dalam jiwa kita kecintaan atas wujud kebendaan duniawi. Tuhan yang telah kita hilangkan dalam lembaran putih jiwa kita. Manusia yang berjalan tak berTuhan. Sebuah otokritik atas hilangnya kesadaran bertuhan dalam jiwa manusia.

Nietzsche sendiri menganggap bahwa segalanya adalah tak bertujuan dan penuh dengan kehampaan, dan akhir dari eksistensi manusia adalah kematian. Kematian adalah akhir dan ujung dari hidup manusia, sehingga gerak laku manusia sehebat apapun hanyalah berujung pada kematian. Manusia dengan segenap moral yang disandangnya hanyalah ruang kosong belaka dan tanpa makna sama sekali. Semuanya nihil, hidup ini penuh kekosongan dan ketiadaan, bahkan Tuhanpun tiada, berbuatlah sesuai dengan kehendak diri karena yang ada adalah diri kita. Ketika kita menjadi diri yang utuh maka hakikatnya kita telah menjadi manusia sejati (ubermensch).

Manusia ubermensch menurut Nietzsche merupakan manusia super yang menolak segala hal yang berasal dari luar dirinya, menolak segala nilai dan konsep moral yang membelenggunya sehingga manusia dapat hadir secara utuh dan bebas untuk menentukan dirinya sendiri tanpa pengaruh siapapun, bahkan Tuhan sekalipun. Semuanya dalam pandangan Nietzsche adalah nihil, Tuhan pun nihil, kesemuanya tak ada. Jika kita mampu menolak segala yang membelenggu manusia (moral, Tuhan, dll) maka manusia telah mampu menjadi manusia paripurna.

Konstruksi ini berbeda dengan pemahaman Ibn Arabi atas eksistensi manusia, dunia dan Tuhan. Dalam teorema Ibn Arabi (1165–1240 M) manusia adalah fenomen kehadiran Tuhan yang ingin dikenal oleh makhluk. Manusia hanyalah citra atau imagoTuhan di bumi. Bahwa eksistensi manusia dan makhluk sesungguhnya mengarah kepada sesuatu yang lebih besar, yaitu eksistensi kehadiran Tuhan itu sendiri.

Disinilah eksistensi manusia yang sesungguhnya. Ia tidak hadir atas dirinya sendiri, karena ia hanyalah bentuk dari citra dan bayang-bayang Tuhan. Manusia yang bergerak tidak pernah dapat lepas dari jangkauanNya. Dinamika idealita kehadiran manusia yang sesungguhnya adalah semu, karena ia hanyalah bayangan yang kelak menghilang. Ia bukan sebuah entitas yang kekal, karena ada dan hadirnya ia disebabkan oleh ada dan hadirnya Tuhan.

JIka Nietszche menghadirkan ubermensch, pada ujung yang berbeda Ibn Arabi menghadirkan konsep manusia insan kamil. Insan Kamil adalah bentuk manusia paripurna yang justru mengakui totalitas nilai Ketuhanan dalam dirinya. Ia menjadi paripurna dan utuh bukan atas eksistensi manusia itu sendiri, melainkan atas eksistensi Tuhan. Ibn Arabi melihat bahwa hadirnya manusia ini hanyalah sebagai tanda atau fenomen saja dari hadirnya sesuatu yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Wujud manusia bukanlah wujud sesungguhnya, karena yang sesungguhnya adalah Tuhan.

Dalam pendekatan Nietszche mungkin benar kita adalah nihil, tetapi nihilnya manusia itu justru ketika ia berada dihadapan Tuhan sebagai Wujud Hakiki. Manusia ketika dibandingkan dengan Tuhan, maka ia menjadi ketiadaan, tak berarti. Kalaupun manusia ada, keadaan itu bersifat temporer bukan abadi dan hakiki. Selama manusia mampu meletakkan Tuhan di dalam batinnya, maka ia setidaknya mampu menjadikan dirinya sebagai manusia insan kamil.

Walaupun demikian gagasan manusiaubermensch (Overman) dalam arti yang lain sesungguhnya dapat digunakan sebagai metodologi otokritik atas eksistensi manusia moderen yang sejatinya memang telah dan tengah membuang ide Tuhan dalam hatinya. Manusia yang membuang Tuhan yang sesungguhnya dan menggantinya dengan tuhan-tuhan lainnya (harta, kedudukan, kekuasaan, ego, dan lainnya). Manusia yang melepas Tuhan, tetapi justru ia terjebak dengan banyak konsep “tuhan” lain yang ia bangun.

Jika entitas manusia paripurna adalahubermensch yaitu ketika mampu melepaskan semua hakikat di luar dirinya, sehingga ia menjadi subjek bebas karena hakikat yang lain adalah nihil atau ketiadaan dalam pandangan Nietzsche, maka pembentukan entitas manusia paripurna menurut Ibn Arabi adalah insan kamil, yaitu ketika manusia mampu meletakkan ide Ketuhanan dalam dirinya. Ini menjadi antonim atas gagasan nihilisme Nietzsche.

Disinilah Ibn Arabi memperkenalkan konsep relasi Ketuhanan dalam jiwa manusia terdalam dalam bentukhablumminallah. Sebuah konsep tentang visi manusia yang dikehendaki, yaitu manusia monoteistik sebagai bentuk ideal. Manusia yang selalu membawa Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap gerak dan detak hidupnya. Manusia tauhid yang mengakui hanya Tuhan dalam hidupnya & membedakan dengan selain diriNya. Selain Tuhan Yang Tunggal yaitu Allah, semuanya dalam bentuk berpasangan.

Manusia dan juga alam semesta yang diciptakan olehNya dalam bentuk yang berpasangan: Laki-laki dan Perempuan, Pagi dan Malam, Bulan dan Matahari, Lautan dan daratan, Dunia dan akhirat, bahagia dan sedih, semuanya berpasangan dalam bentuk dualitas makhluk. Tuhan tidak berpasangan, Dia sendiri tanpa ada yang menyamaiNya. Disinilah hakikat Nilai Ketuhanan itu terjadi, sebuah ontologi Ketuhanan dalam Falsafah Pancasila. Manusia ideal yang mengakui Tuhan Yang Tunggal, dan menempatkanNya dalam setiap olah fikir dan gerak manusia.

Gagasan manusia bertuhan menjelaskan sebuah prinsip pengakuan menyeluruh atas jejak kehendak Tuhan dalam diri. Manusia bertuhan dalam spiritualisme Suhrawardi al Maqtul (1154–1191 M), adalah limpahan Cahaya Tuhan yang memasuki ruang jiwa batiniyah manusia. Tuhan adalah Cahaya di atas cahaya (Qs.[24]:35), pusat ketertundukan kosmos. Dia memancarkan limpahan cahaya kepada semua entitas alam baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Jiwa manusia yang terang hakikatnya menerima terpaan cahaya rahman dan rahim Tuhan; karena ia selalu berupaya mendekatiNya. Dekati sumber cahaya itu agar kita tampil bercahaya. Ketika ia berada menjauh dari sumber cahayaNya, maka cahaya Tuhan akan semakin mengecil dan akhirnya menghilang dari dirinya.

Manusia yang selalu menunjukkan kosmos Ketuhanan dalam gerak refleksinya, sesuai dengan hadits Qudsi:

“Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”(HR Bukhari).

Totalitas penghambaan makhluk kepada Tuhan, dimana setiap sudut hatinya adalah wujud refleksi cahaya Tuhan. Ia melangkah dan berbuat adalah perwujudan penghambaan kepadaNya. Pada hakikatnya ia meletakkan Tuhan dalam ruang jiwa manusianya, membentuk sebuah konstruksi ruang berTuhan yang mengarahkan segenap fikiran dan tindakannya melambangkan sifat dan kehendak Ilahiah. Manusia bukanlah gerak absolut, karena ia tetaplah berada dalam keterbatasan waktu dan ruang. Manusia yang berkehendak menunjukkan kebebasannya tanpa kehilangan jejak-jejak keilahiahannya.

Disinilah kita melihat hakikat Ketuhanan YME di dalam ontologi Pancasila. Ia adalah spirit ketauhidan yang mengadopsi gagasan spiritualisme manusia terdalam. Pancasila sendiri telah menunjukkan prinsip manusia yang ideal, yaitu manusia yang selalu meletakkan kosmos hidupnya dalam lingkar Ketuhanan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (Qs. Adz-Dzâriyât [51]:56).

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen tidak tetap Universitas Esa Unggul & STKIP Arrahmaniyah Depok. Founder & Peneliti pada Islamadina Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *