Manusia Religio-Humanis

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Nilai Ketuhanan yang melekat pada diri manusia tidaklah berdiri tunggal. Nilai Ketuhanan ini selalu dilekatkan dengan nilai Kemanusiaan. Relasi Ketuhanan yang dia bentuk harus memberikan dampak positif dan konstruktif terhadap kemanusiaan.
Nilai Kemanusiaan bermakna sebuah pengakuan dan penghargaan yang tinggi terhadap keberadaan umat manusia beserta segenap nilai-nilainya.

Manusia adalah entitas subjek yang memiliki hak mendasar yang harus dihormati. Manusia dilengkapi dengan beragam sarana dan Tuhan sendiri menghormati ciptaanNya. Manusia tidak layak diperlakukan secara tidak manusiawi, dan penghargaan atas entitas manusia mendudukkannya selaku subjek, bukan objek eksploitatif. Tuhanpun memerintahkan makhluk lain untuk sujud kepada manusia dalam kisah penciptaan Adam as. (Qs.[2]:34). Sujud menjadi sebuah bentuk pengakuan penuh dan penghormatan makhluk lain kepada manusia, sekaligus merupakan sebuah perintah Tuhan.

Manusia dihargai karena Tuhan menghargainya selaku manusia. Kelengkapan dalam konstruksi baik struktur fisik, materi, hingga imateri menjadikan ia memiliki hak untuk diperlakukan secara terhormat. Manusia yang mengakui Tuhan dalam dirinya juga sekaligus mampu menghormati sesama manusia. Bentuk pengakuan atas keberadaan manusia yang berperilaku secara adil juga menunjukkan ciri yang beradab.

Berperilaku adil adalah bentuk dari nilai Ketuhanan yang melekat dalam setiap diri manusia. Adil diambil sifat Tuhan Yang Maha Adil, dan dengan sifat Tuhan yang itulah manusia dituntut untuk memperlakukan sesamanya secara adil. Berbuat adil terhadap sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya menunjukkan sebuah kemampuan manusia untuk mencontoh dan menerapkan nilai Ketuhanan itu sendiri dalam jiwa setiap manusia.

Ketuhanan (habluminallah) dan kemanusiaan (hablumminannas) tidaklah terpisah, karena berbuat baik terhadap Tuhan justru dibuktikan dengan bentuk berbuat baik dan adil terhadap sesama manusia lainnya. Bagaimana ia memperlakukan manusia menunjukkan bagaimana ia memperlakukanNya. Seseorang yang harus menyadari setiap hak yang ada dalam diri manusia. Memperlakukan manusia lainnya secara manusiawi pula. Bukan dengan menindas bahkan melecehkan martabat manusia. Manusia dihargai karena ia mampu menghargai manusia lainnya secara adil.

Perilaku manusia yang adil menunjukkan sebuah bentuk dan wujud manusia yang menjunjung tinggi secara penuh nilai-nilai keadaban. Sebuah wujud perilaku manusia yang berakhlaq luhur. Sebuah kumpulan manusia yang tidak pernah melepaskan hatinya dari cahaya Tuhan dan perilaku yang berakhlaq mulia dihadapan sesama manusia.

Hal penting yang harus dimiliki adalah kemampuan untuk berperilaku adil, atau ia mampu mendistribusikan keadilan kepada manusia lainnya. memperlakukan manusia lainnya secara adil, bahkan berbuat adil terhadap dirinya sendiri bukanlah hal yang mudah. Ia harus mampu meletakkan segala sesuatu sesuai dengan proporsinya secara tepat, dan kecenderungan manusia untuk meletakkan segala sesuatu sesuai ego lebih mendominasi ruang batiniyah seseorang.

Berbuat adil tidaklah bermakna menyamaratakan, melainkan bagaimana ia mampu melakukan perbuatan dan meletakkan segalanya secara proporsional.

Manusia dengan segenap kelengkapannya juga potensi yang dimiliki itu dihormati, karena ia memiliki sebuah kemerdekaan bertindak. Ruang kemerdekaan atas pilihan tindakan yang dipilihnya. Eksistensi akal manusia menentukan bagaimana ia memilih tindakan yang paling dianggap rasional bagi dirinya. Manusia dengan kemerdekaan yang ia miliki ini tetap memiliki tanggungjawab atas pilihan bebasnya. Ia bebas memilih, tetapi ia tidak pernah lepas atas konsekuensi pilihannya.

Manusia Indonesia dan Kebudayaan

Konsep Manusia Indonesia dan umumnya kawasan Asia diletakkan dalam bentuk mono-pluralis. Ia adalah paduan antara penghargaan manusia sebagai makhluk pribadi, dan pada saat yang bersamaan adalah makhluk sosio-kultur. Terdapat beragam arena sosial yang tidak dapat dilepaskan dalam ranah individu. Manusia yang selalu terikat dengan sebuah ruang sosial, dimana ia berinteraksi membangun kebersamaan dengan beragam individu lainnya, hingga sekumpulan individu itu membentuk sebuah bangsa hingga negara.

Manusia Indonesia selalu pula terikat oleh ruang budayanya. Ia adalah sekumpulan manusia yang bertindak berdasarkan nalar budayanya. Karakter budaya Indonesia mengacu kepada dua hal: religio-magis dan komunal. Religio magis merupakan sebuah keyakinan bahwa perilaku manusia tidaklah berdiri secara otonom, melainkan selau berkaitan dengan kekuatan adi kodrati yang mengendalikannya.

Perilaku religio-magis manusia Indonesia membawa manusianya selalu terikat oleh kekuatan adi-kodrati dan membawanya dalam beragam perilaku keseharian. Keyakinan ini sudah tertanam sejak beribu tahun lamanya, sejak manusia meyakini adanya kekuatan pengendali berupa ruh hingga pohon dan batu bahkan bintang hingga manusia kini meyakini adanya kekuatan dan kekuasaan Allah dalam dirinya. Proses evolusi keyakinan berlangsung selama ribuan tahun bagi beberapa kelompok sosial manusia Indonesia, sejak era agama pra-semitik hingga memeluk agama semitik (samawi).

Tahapan manusia menuju tahap positivis tidak terjadi, manusia Indonesia tidak pernah menggunakan rasionalisme secara mutlak tanpa menyertakan keyakinan religio-magisdalam beragam aktivitas dan perilakunya. Perilaku dan aktivitas kulturalnya selalu berkaitan dengan kekuatan adi-kodrati yang dianggapnya akan memberikan perlindungan kepada manusia dan lingkungannya. Tuhan selalu dibawa dalam perilaku aktif berkebudayaan, sehingga membentuk manusia-manusia religius.

Selain karakter religio-magis manusia Indonesia juga selalu merasa terikat oleh manusia lainnya (komunal) dalam setiap aktivitasnya. Ia bukanlah individu yang bertindak secara otonom, tetapi ia selalu meletakkan gagasan kebersamaan di dalamnya. Peristiwa perkawinan diakui bukanlah sekedar hubungan pribadi antara laki-dan perempuan yang mengikatkan dirinya dalam lembaga perkawinan, melainklan diyakini sebagai bersatunya dua buah keluarga besarnya. Peristiwa perkawinan selalu menyertakan ratusan hingga ribuan manusia untuk terlibat di dalam kegiatan upacara perkawinan.

Kelulusan seorang anak manusia dari sebuah lembaga pendidikan, tidaklah diyakini sebagai keberhasilannya, melainkan juga terdapat doa dari beragam orang lain terhadap dirinya. Kelulusan sekolah atau kuliah dirayakan melalui acara dan ritual yang melibatkan sekumpulan individu lainnya dalam sebuah kesatuan sosial. Ia tidak merasakan keberhasilannya secara mandiri penuh, melainkan melibatkan orang lain: keluarga, teman, sahabat, dan lainnya.

Ia selalu membagi kebahagiaan hingga kesedihannya dengan orang lain, maka disinilah gagasan manusia pluralis disematkan kepada manusia Indonesia. Pada sisi lain, ia juga memiliki hak individu untuk dihargai. Kepemilikan barang-benda secara individu juga sangat dihargai, walaupun ia harus bertenggang-rasa dengan manusia lainnya. Hak-hak individu untuk menentukan pilihannya secara otonom juga mendapatkan tempat yang layak dalam ruang sosialnya. Seseorang memilih untuk sekolah pada bidang tertentu, dan bekerja pada bidang apapun merupakan kehendak otonomnya.

Setiap masalah yang dihadapi oleh manusia Indonesia selalu diletakkan dalam gagasan musyawarah. Dalam setiap perjanjian (kontrak) hukum yang dibuat oleh manusia, pasti mencantumkan klausul musyawarah sebagai sebuah metode penyelesaian sengketa. Alternatif berikutnya adalah menyelesaikannya melalui lembaga pengadilan, dimana hal utama tetap menggunakan metode musyawarah. Musyawarah menjadi metodologi utama bagi setiap penciptaan kedamaian sosial manusia Indonesia.

Terdapat perilaku yang seimbang dalam menata keadilan perilaku bagi manusia Indonesia. Ia harus mampu meletakkan dirinya diantara makhluk Tuhan; sebagai makhluk individu maupun sosial sekaligus. Ia harus mampu berbuat adil terhadap dirinya dan lingkungan sosio-kulturalnya, karena berlaku adil adalah kehendak Tuhan terhadap dirinya. Inilah makna keadilan yang dikehendaki dalam ruang ide nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Tergambar kini mengapa Falsafah Pancasila meletakkan Sila Ketuhanan dan Sila Kemanusiaan diwujudkan dalam bentuk manusia religio-magis dan komunal sekaligus. Sila Persatuan dan Sila Permusyawaratan Rakyat diwujudkan dalam perilaku-perilaku musyawarah dalam setiap penyelesaian masalah yang dihadapi. Tentunya metodologi ini bertujuan untuk menciptakan sebuah ruang Keadilan Sosial yang tercantum dalam Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Dapat difahami bahwa Pancasila bukan semata narasi yang dihafalkan, melainkan telah dijalankan selama beribu tahun di bumi Indonesia yang membentuk karakter manusia Indonesia sebagai makhluk mono-pluralissekaligus religio-magis. Manusia yang terikat oleh Tuhan selaku pengendali dan pemilik kekuatan adi-kodrati dan manusia yang selalu merasa terikat oleh manusia yang lain dalam ruang-ruang kebersamaan dengan semangat kegotong-royongan. Kedua hal tersebut (mono-pluralis dan religio-magis) dapat disebut dengan istilah manusia religio-humanis, sebuah konsep tentang manusia yang meyakini kekuatan ketunggalan Tuhan dan sekaligus manusia yang selalu hidup bersama dengan lainnya dan memperlakukan manusia lainnya itu dengan penuh keadaban.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An-Nahl [16]: 90).

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen Tidak Tetap Universitas Esa Unggul dan STKIP Arrahmaniyah. Founder dan Peneliti Islamadina Institute.

One thought on “Manusia Religio-Humanis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *