JALAN IBRAHIM; REKONSTRUKSI BAGI MANUSIA POSTMODEREN

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Nilai Rasionalitas Ketauhidan

Ibrahim a.s. mengajarkan sebuah nilai-nilai yang begitu besar dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Setidaknya terdapat 2 (dua) nilai yang dapat kita lihat: pertama nilai ketauhidan, dan nilai pengorbanan. Ketauhidan berkaitan dengan pengakuan atas keesaan Tuhan yang tidak terbandingkan oleh apapun, sedangkan nilai pengorbanan adalah sebuah pembelajaran atas sebuah keikhlasan untuk mengorbankan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Kedua hal ini menjadi begitu mudah diucapkan tetapi begitu sulit untuk dijalankan oleh manusia yang telah tergerus oleh keduniawian yang umum terjadi saat ini.

Ibrahim a.s. merupakan utusan Tuhan untuk menunjukkan sebuah nilai ketauhidan, merubah arah bertuhan manusia dari konsep politeistik menuju pada konsep bertuhan monoteistik. Ibrahim a.s. mencoba membangun kembali (merekonstruksi) konsep dasar dalam hubungan antara manusia dan Tuhan. Manusia yang selama ini menuhankan patung sebagai sebuah sesembahan, diarahkan pada sebuah arah yang lurus (hanif) yaitu semata memuji Tuhan yang sesungguhnya, Allah Swt, sebagai satu-satunya Tuhan yang layak untuk disembah. Konsep ini merubah menciptakan sebuah arah baru bagi kaumnya, bahwa tuhan bukan apa yang tampak pada pandangan pancaindera, melainkan sesuatu yang tersembunyi dalam tabirNya.

Ibrahim a.s. sebagai manusia yang berperilaku lurus (hanif) selalu gelisah melihat lingkungan sosialnya yang sudah menjauh dari relasi ketauhidan. Ia gelisah mempertanyakan hakikat-hakikat ketuhanan yang bergelayut di dalam benaknya. Beliau selalu mempertanyakan hingga menggugat tuhan yang menjadi objek sesembahan manusia selama ini. Ibrahim a.s. yang tidak puas dengan bangunan konsep ketuhanan yang menurutnya sangat tidak logis. Tuhan yang tidak memberikan apapun bagi manusia, tuhan yang tak berbuat apapun dan hanya mampu diam. Ia bertanya kepada dirinya sendiri atas ketidakpuasannya mengenai konsep Tuhan, siapakah Tuhan? Rasionalitas akalnya menolak segala hal yang ditawarkan oleh lingkungannya kepadanya mengenai tuhan. 

Ibrahim a.s. menatap kepada langit dan menatap bintang, dan ketika bintang menghilang dan terbenam, ia menolak karena Tuhan tak mungkin terbenam (Qs.[6]:76). Kini Ibrahim menatap bulan, dan berkata: Inilah “Tuhanku”. Tetapi kita ia melihat bulan menghilang dipagi hari, maka ia menolak bintang sebagai tuhan, karena Ibrahim a.s. tidak menyukai sesuatu yang tenggelam (Qs.[6]:77). Ia lalu memilih matahari sebagai tuhan, karena ia melihat matahari tampak lebih bercahaya dan lebih besar dibandingkan bulan, tetapi ketika matahari pun terbenam ia pun menolaknya sebagai Tuhan, karena Tuhan tak mungkin tenggelam (Qs.[6]:78).

Ibrahim a.s. mendekati Tuhan dengan empiris pancaindera dan rasionalitas akalnya dan dengan itu ia menolak tuhan yang hadir dihadapannya. Tuhan tak mungkin terbenam, Tuhan tak mungkin menghilang. Rasionalitas akal Ibrahim a.s. menolak segala sesuatu yang tak dapat diterima akal manusia. Tuhan yang menurut akal manusia yang cerdas tidaklah mungkin menghilang. Rasio akal menjadi sebuah sarana kecerdasan manusia untuk mempertanyakan hakikat-hakikat eksistensi Tuhan di alam semesta. Ibrahim bahkan mempertanyakan langsung kepada Allah bahwa Dia memanglah Tuhan yang sesungguhnya (Qs.[2]:260).

Rasionalitas akal Ibrahim a.s. menuntut pengujian atas eksistensi Tuhan dihadapan ayahnya, masyarakat sosialnya bahkan penguasa kala itu. Ia menggugat tuhan yang selama ini eksis dalam lingkungan sosialnya (Qs.[21]:52). Masyarakatnyapun tak mampu menjelaskan konsep tentang Tuhan yang selalu dipertanyakan oleh Ibrahim a.s., dan mereka hanya mengikuti apa yang telah dilakukan oleh leluhur mereka secara turun temurun (Qs.[21]:53). Ibrahim a.s. bahkan menggugat tuhan dan menghancurkan tuhan-tuhan dalam masyarakatnya (Qs.[21]: 57–58).

Nilai Ketahidan seorang Ibrahim a.s. mengajarkan kita untuk membuang segala yang bukan Allah untuk kita sembah. Pada masyarakat postmoderen yang begitu terikat dengan beragam nilai baru yang ia bangun, apakah nilai semangat ini masih bersemayam di dalam diri setiap anak manusia? Apakah kita telah mengesampingkan Allah dan menciptakan beragam tuhan selainNya dalam diri kita yang kita ikuti? Kekuasaan, kekayaan, kedudukan, harta berlimpah, pangkat, status sosial, bahkan perangkat teknologi seperti gadget menjadi tuhan-tuhan baru bagi manusia postmoderen dimana akal dan hati kita selalu terikat olehnya?

Manusia postmoderen mungkin tidak menyembah patung seperti masyarakat di era Ibrahim a.s., tetapi penghambaan terhadap dunia (selain Allah) khususnya teknologi begitu kuat. Sebuah masa dimana mushaf-mushaf Qur’an tergantikan oleh layar gadget, sebuah dunia dimana kekuasaan, bergelimangnya harta, jabatan, banyaknya keturunan, serta gelar-gelar sosial semakin diburu oleh banyak manusia dan melupakan Allah. Sebuah kritik tajam bagi kita selaku manusia untuk merenung dan melihat ke dalam diri kita terdalam: apakah nilai ketauhidan Ibrahim a.s. masih bersemayam dalam diri kita?

Nilai Pengorbanan

Nilai ketauhidan sangat berkait erat dengan nilai pengorbanan, jika ketauhidan mengajak manusia untuk mengesampingkan segala hal selain Allah dalam jiwa kita terdalam, maka pengorbanan adalah bentuk perwujudan sekaligus pembuktian tauhid dalam diri manusia. Salah satu hal yang selalu didambakan oleh manusia adalah hadirnya seorang anak sebagai pelanjut perjuangan dan kebesarannya. Kehadiran seorang anak bahkan menjadi sebuah simbol status sosial sebuah keluarga. Banyak keluarga mengeluarkan biaya begitu besar untuk dapat memiliki seorang anak melalui beragam teknologi kedokteran.

Anak menjadi sebuah penentu kedudukan seseorang dalam keluarga, dan untuk itu ia rela mengorbankan yang ia punya untuk memiliki seorang anak sebagai penerus kejayaannya. Kini mari kita melihat bagaimana relasi ayah dan anak yang dihadirkan oleh seorang Ibrahim a.s. selaku ayah dan Ismail a.s. selaku anak. Ismail a.s. merupakan anak penerus perjuangan dakwah sang ayah. Ismail a.s. yang juga seorang Nabi begitu dicintai oleh ayahnya (Ibrahim a.s.). Sebuah hal yang wajar dalam hubungan ayah dan anak, dan relasi ini hendak diuji oleh Allah sendiri: mana yang lebih dicintai oleh Ibrahim a.s., Allah selaku Tuhan semesta alam, ataukah Ismail a.s. selaku anak yang sangat dicintainya?

Allah memerintahkan Ibrahim a.s. untuk menyembelih anaknya yang sangat ia cintai yaitu Ismail a.s. melalui sebuah mimpi (Qs.[37]:102). Berpuluh-tahun Ibrahim a.s. sangat mendambakan hadirnya seorang anak, dan ia tidak lelah memohon kepada Allah agar dikarunia seorang anak (Qs.[37]:100). Kini anak yang telah hadir haruslah ia korbankan kepada Allah untuk menguji kesetiaan Ibrahim a.s. kepada Tuhannya. Proses dialog antara ayah dan anak terjadi ketika Ibrahim a.s. bertanya kepada Ismail a.s. mengenai perintah untuk menyembelih buah hatinya, dan Ismail a.s. selaku anak meyakinkan sang ayah untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Maka Ibrahim a.s. membuktikan bahwa Allah lebih ia cintai dibandingkan anak tercintanya sendiri, beliau menyembelih sang buah hati sebagai tanda bukti kecintaannya kepada Allah yang tak tertandingi (Qs.[37]: 103–107). 

Sebuah proses dialog tercipta, dan sang anak, Ismail a.s. dengan keikhlasan menyerahkan nyawanya untuk disembelih sebagai bentuk tanda cintanya kepada Allah selaku Tuhan semesta alam (Qs [37]: 102). Maka Kitab Suci Qur’an menggambarkan bagaimana seorang anak yang ikhlas untuk memenuhi permintaan ayahandanya sebagai bentuk keikhlasan menjalan perintahNya. Allah lalu mengganti anak yang dicintai dengan seekor kambing yang gemuk pengganti Ismail a.s.  

Nilai pengorbanan Ibrahim a.s. untuk mengorbankan apa yang ia cintai apakah juga masih ada dalam jiwa anak manusia di era postmoderen ini? Akankah manusia masih dengan ikhlas untuk mengorbankan segala kecintaan terhadap dunia: jabatan, kedudukan, pangkat, gelar dunia, dan beragam kegermelapannya? Ataukah dunia ini lebih kita cintai dibandingkan Allah sendiri? Manusia kini tidak diperintah untuk menyembelih anak-anaknya, tetapi gambaran Ibrahim a.s. untuk menyembelih apa yang ia paling cintai adalah sebuah bukti bagaimana seorang manusia lebih mencintai Allah dibandingkan dunia.

Dunia dengan segala kegermelapannya yang begitu indah akankah dengan ikhlas kita buang dalam hati kita ketika kita berhadapan dengan Allah, ataukah justeru kegermelapan dunia lebih menarik hati dibandingkan keagunganNya? Ibrahim a.s. mengajarkan kepada umat manusia postmoderen untuk membuang segala dunia yang selama ini kita perjuangkan, pertahankan, hingga kita pertuhankan tanpa kita sadari. Peristiwa kisah hidup Ibrahim a.s. mengajarkan bagaimana kita harus merekonstruksi hidup kita, mengembalikan paradigma dan cara pandang kita terhadap dunia (world view). Bahwa bukan dunia ini yang mengendalikan manusia, melainkan manusialah yang sesungguhnya mengendalikannya melalui relasi tauhid dan pengorbanan.

Penulis adalah dosen tetap Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen tidak tetap Universitas Esa Unggul dan STKIP Arrahmaniyah Depok. Founder dan Peneliti Islamadina Institute.

One thought on “JALAN IBRAHIM; REKONSTRUKSI BAGI MANUSIA POSTMODEREN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *