Masyarakat Simbolik Nusantara

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Masyarakat simbolik yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sekelompok manusia yang hidup dalam kebudayaan simbol. Sekelompok manusia yang memandang bahwa setiap objek benda, tulisan (grafis), warna bahkan sebuah pertistiwa tertentu memiliki makna-makna tertentu yang harus difahami oleh setiap manusia. Setiap benda yang dilihat bukanlah benda diam tanpa makna, tetapi ia memiliki makna-makna tertentu yang hendak disampaikan. Dalam banyak kebudayaan, cara penyampaian makna tidak selalu diucapkan dalam literasi kata melainkan ditampilkan dalam wujud benda, grafis, permainan warna, dan lainnya.

Interaksi Simbolik

Dalam pendekatan interaksi simbolik yang dikemukakan oleh George H. Mead, manusia selalu memproduksi atau menghasilkan simbol. Simbol yang hadir merupakan sebuah kesepakatan yang dihasilkan oleh sekelompok manusia di dalamnya. Kelompok manusia lainnya dapat menghasilkan simbol-simbol tertentu dengan makna yang tidak sama dengan kelompok yang lain. Makna yang disepakati atas simbol yang dihadirkan tersebut akan menentukan bagaimana seseorang berperilaku (Shidarta, 2019).

Simbol dapat berupa benda fisik, perkataan, juga tindakan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah produk dari interpretasi mereka terhadap dunia dan sekeliling mereka. Makna sendiri adalah produk interaksi sosial, dia tidak melekat pada objek melainkan dinegosiasikan dari hasil penggunaan bahasa. Untuk itu makna dapat berubah dari waktu ke waktu ditentukan berdasarkan pada situasi interaksi sosial yang terjadi (Ahmadi, 2008).

Pembentukan norma juga sangat dipengaruhi oleh simbol-simbol yang hidup dalam kelompok sosialnya. Simbol-simbol tertentu yang dihasilkan antar satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya dapat berbeda-beda. Kita ambil contoh: warna hitam dalam kebudayaan tertentu adalah simbol dari kedukaan. Warna gelap mewakili rasa kesedihan, kemurungan, hadirnya mendung gelap yang menutupi cahaya yang umumnya lebih mewakili rasa keceriaan. Warna hitam akan ditampilkan oleh kelompok pendukung kebudayaan tertentu dalam berbagai peristiwa kedukaan: meninggal, bencana alam, dan sebagainya.

Warna merah pada sekelompok pendukung kebudayaan yang lain memiliki makna bahaya. Ia menyimbolkan warna darah yang keluar dari tubuh manusia, keluarnya darah adalah simbol akan hadirnya sebuah bahaya yang mengancam. Maka dalam sebuah peristiwa atau keadaan tertentu, warna ini digunakan untuk menyampaikan pesan sebuah bahaya yang tengah terjadi. Sebuah peristiwa bencana alam, seperti banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus bukan saja dimaknai sebagai sebuah gerak peristiwa alam semata. Ia memiliki makna religius tentang pesan Tuhan yang disampaikan melalui beragam peristiwa alam tersebut. Pesan itu dapat berarti murka Tuhan, cobaan Tuhan bagi manusia dan lain sebagainya.

Pada belahan dunia lainnya warna merah adalah simbol kebahagiaan dan kesejahteraan, hal ini sangat berbeda dengan simbol makna bahaya. Pada masyarakat Tradisional Tiongkok, warna merah ditunjukkan pada upacara-upacara tradisional mereka. Warna ini mencerminkan kesuburan, kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Dalam beragam kegiatan upacara tradisional, warna merah begitu mendominasi sebagai simbol kesejahteraan.

Budaya simbolik umum terjadi di banyak ruang sosio-kultur baik di masyarakat Asia-Afrika hingga Eropa. Khusus masyarakat timur, budaya simbolik sangat umum terjadi. Penciptaan norma hukum sebagai pengendali perilaku manusia juga menunjukkan karakter simbol yang sangat kuat. Bahasa hukum yang kaku serta rigid diungkapkan melalui penerapan simbol-simbol yang memberikan makna normatif tertentu.

Pada masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan Pantai Selatan Jawa memiliki sebuah norma yang dipatuhi berupa larangan sosial untuk menggunakan baju yang berwarna hijau. Warna ini diyakini sebagai warna magis yang hanya boleh dikenakan oleh penguasa pantai selatan, yaitu Nyi Roro Kidul. Gagasan ideologis yang membentuk konstruksi norma bagi masyarakat Jawa bagian Selatan ini memiki sebuah simbol yang bermakna magis. Bahwa keyakinan religio magis semacam ini diyakini dan dijalankan dengan kepatuhan. Pada masyarakat perkotaan moderen, penerapan norma juga acapkali menggunakan simbol-simbol tertentu, seperti: tanda huruf P dicoret, permainan warna lampu merah, kuning, hijau pada traffic light, warna tertentu pada lambang partai dapat menunjukkan sebuah makna tertentu.

Masyarakat Simbolik Nusantara, dari Bendera, Keris hingga Kelepon

Dalam konteks masyarakat yang berakakter magis religius, setiap wujud benda, hingga sebuah peristiwa selalu memiliki makna-makna religio magis yang kuat. Perilaku seseorang dihasilkan dari bagaimana ia memaknai setiap benda yang ia pandang. Sebuah bendera, bukanlah sekedar warna kain semata, ia memiliki makna simbol yang begitu kuat dan bernuansa magis bagi masyarakat nusantara. Warna merah-putih pada selembar kain bukanlah sekedar pilihan rangkaian warna, melainkan memiliki makna magis yang menentukan bagaimana manusia bersikap terhadap bendera tersebut.

Merah adalah simbol darah dan juga simbol matahari. Putih adalah simbol tulang dan juga simbol bulan. Makna yang ditampilkan adalah berputarnya siang dan malam, bersatunya darah dan tulang, disitulah berdiri tegak Indonesia. Makna ini tentunya dihadirkan dalam konstruksi budaya Indonesia sejak era Majapahit, era Kesultanan Islam Nusantara, hingga tegaknya Negara Indonesia.

Interpretasi atas bendera Merah Putih ini berdampak pada pembentukan norma yang dibangun oleh kelompok masyarakat Nusantara, karena ia memiliki makna sakral dan religius maka tidak sembarangan menempatkan bendera tersebut di tempat yang tidak selayaknya. Setiap kegiatan upacara kenegaraan hingga upacara adat, warna merah-putih dihadirkan sebagai sebuah norma. Adanya sebuah ketentuan hukum adat di Jawa dalam selamatan kelahiran anak akan menyuguhkan bubur merah-putih, dan dalam pembangunan sebuah rumah akan mengikatkan kain merah-putih pada kuda-kuda bangunan atap rumah. Disinilah makna kultural religius dihadirkan atas sebuah warna merah-putih. Makna atas simbol Merah-putih yang dihadirkan oleh bendera Negara Monaco tentunya tidak sama dengan pemaknaan bendera Merah-Putih Indonesia. Setiap objek walau memiliki kesamaan gambar, warna, grafis, dan lainnya akan memiliki makna yang berbeda-beda.

Tidak hanya bendera, beberapa makanan memiliki makna-makna religio magis yang kuat. Mengapa setiap keluarga muslim menghidangkan ketupat pada saat lebaran, mengapa setiap keluarga muslim menghidangkan kurma pada setiap bulan puasa bukanlah tanpa makna. Kurma dalam pemaknaan kultural Islam tidak sekedar makanan, melainkan menghadirkan makna religi. Manusia menginterpretasikan makna kurma sebagai hidangan religi. Simbol-simbol religi ini dihadirkan sebagai bentuk pengingat atas eksistensi Tuhan dalam diri dan budaya manusia.

Tentunya simbol-simbol religi terhadap makanan ini tidaklah sama dalam setiap kebudayaan. Manusia Nusantara juga menghadirkan sajian ketupat yang juga mengandung makna religius. Ketupat sebagai makanan khas masyarakat Asia Tenggara yang berasal dari kata “kupat” dalam bahasa Jawa bermakna laku papat (empat tindakan): luberan, leburan, laburan, dan lebaran. Luberan makna meluber atau melimpah rizki, leburan bermakna melebur dosa, laburan bermakna melabur atau menjaga kesucian putih hati, dan lebaran bermakna membuka lebar pintu maaf. Kupat juga bermakna ngaku lepat (mengakui kesalahan), sebuah pengakuan bahwa manusia yang memiliki kesalahan dalam dirinya.

Kupat tentunya hanya memiliki makna religius pada masyarakat Asia Tenggara, tetapi ia menjadi tak bermakna religi pada masyarakat Timur-Tengah sebagai pusat lahirnya Islam itu sendiri. Kupat digunakan sebagai sarana dakwah Islam oleh Wali Songo menyesuaikan dengan demografi dan Kebudayaan Jawa yang tidak sama tentunya dengan demografi gurun pasir timur tengah. Demikian pula dengan klepon sebagai makanan khas Nusantara. Bagi sekelompok masyarakat tertentu ia menampilkan sosok makanan semata tanpa menghadirkan pemaknaan religius sama sekali. Pada kelompok sosial yang lain, klepon mungkin dapat memiliki makna religius. Klepon sebagai simbol kesederhanaan masyarakat Jawa, yang sudah dihadirkan sejak masa Jawa Kuno. Warna hijau pada klepon dan makanan tradisional lainnya yang berwarna hijau memberikan simbol kehidupan dan kesuburan.

Tidak hanya makanan, benda juga senjata seperti keris juga memiliki makna dalam masyarakat. Keris bagi masyarakat Melayu adalah simbol religi yang menghadirkan filosofi hidup manusia. Keris yang dibentuk berliku(luk), memberikan makna hidup manusia yang penuh liku yang pada ujungnya adalah kembali pada Tuhan. Keris yang memiliki luk ganjil menunjukkan sebuah bilangan ganjil sebagai bentuk nilai Ketuhanan, karena Tuhan mencintai bilangan ganjil. Pada ruang sosial yang berbeda, keris memberikan makna yang juga sangat berbeda. Ia adalah simbol dari perilaku manusia yang tak bertuhan karena meyakininya memiliki kekuatan-kekuatan tertentu secara berlebihan.

Keragaman makna ini dibangun oleh beragam budaya yang berbeda. Masing-masing budaya memproduksi makna yang berbeda atas setiap objek yang hadir. Pendekatan yang dilakukan dalam melihat produksi makna tentunya menggunakan pendekatan mikro. Pendekatan ini digunakan untuk meneropong sudut budaya hukum sekelompok manusia secara mendalam (indepth). Walaupun objek yang tampak hanya sebuah benda, tetapi setiap kelompok sosial memberikan makna yang berbeda-beda terhadapnya. Melihat bagaimana mereka bereaksi terhadap beragam makna atas simbol objek tertentu yang dihadirkan. Bahwa dalam setiap satuan sosial akan menghasilkan makna yang berbeda-beda. Lingkungan geografi alam, sejarah, religi akan memberikan makna tersendiri atas makna atas sebuah objek atau peristiwa.

Simbol swastika bagi masyarakat Nusantara memiliki makna religius, khususnya dalam ajaran agama Buddha. Sedangkan bagi masyarakat Eropa ia merupakan simbol kekejian dan kekejaman, karena Nazi Jerman menggunakan simbol swastika sebagai lambang benderanya. Peristiwa kekejaman dan pembantaian manusia yang dilakukan Nazi Jerman di Eropa telah menimbulkan traumatik yang sangat mendalam bagi masyarakat Eropa. Seperti halnya lambang palu arit bagi masyarakat Indonesia yang juga memberikan makna atas simbol kekejaman manusia di Indonesia. Gambar dan simbol apapun yang dihasilkan selalu memberikan makna tertentu dalam setiap kebudayaan, ia tidak bebas nilai dari pemaknaan yang diberikan oleh sekelompok manusia.

Dalam pendekatan mikro atas ruang sosial sekelompok manusia, kita harus menyelami cara pandang mereka terhadap dunianya (ideological method). Memahami secara mendalam bagaimana mereka memaknai setiap objek melalui perilaku, sikap, ucapan kata, dan juga gestur tubuh yang ditampilkan. Pemaknaan atas benda, baik ia bermakna religi maupun bermakna materi sekalipun menunjukkan sebuah konsep nilai, bahwa setiap objek memiliki makna-makna simbolik yang diproduksi oleh sebuah kebudayaan manusia.

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen tidak tetap pada Universitas Esa Unggul dan STKIP Arrahmaniyah Depok. Founder dan Peneliti Islamadina Institute.

One thought on “Masyarakat Simbolik Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *