Perjuangan Nabi Musa; Sebuah Makna Kemerdekaan

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Samiri dan Dekonstruksi Kemerdekaan

Kisah Bani Israil yang telah diselamatkan olehNya dari kekejaman Fir’aun (Pharao) adalah contoh bagaimana kita harus memaknai kemerdekaan sebagai sebuah karunia Allah. Bani Israil bersama Nabi Musa yang telah diselamatkan olehNya dengan menyeberangi Laut Merah hingga sampai ke tepi (Qs.[14]:6). Disinilah kemerdekaan Bani Israil tercipta sebagai karunia Allah bagi mereka atas kekejaman penindasan Firaun yang mereka rasakan selama ini.

Bani Israil yang telah diselamatkan oleh Allah melalui Musa dari kekejaman Firaun justeru tidak mensyukuri kemerdekaan, bahkan mereka semakin menjauh dari Allah dengan menyembah anak sapi melalui ajakan Samiri (Qs.[20]:88). Inilah yang menjauhkan Bani Israil dari rasa syukur atas karunia Allah berupa kemerdekaan (Qs.[14]:7). Samiri telah meluluhlantakkan anugerah Allah berupa kemerdekaan dari cengkeraman Firaun melalui penyembahan patung anak sapi yang ia buat dari emas.

Samiri adalah kisah pengkhianatan atas rahmat kemerdekaan yang Allah berikan bagi Bani Israil dari cengkeraman penjajahan Fir’aun. Kini adakah samiri-samiri lainnya di era postmoderen ini? Samiri moderen yang mengajak manusia untuk mengkhianati kemerdekaan bangsanya dengan merusak alam kemerdekaan yang Allah berikan buat kita. Samiri yang mengajak manusia merdeka untuk mengotori ruang kemerdekaan yang seharusnya dihias dengan indah. Samiri era postmoderen yang mengkorupsi kemerdekaan melalui beragam metode kerusakan nan koruptif yang mencederai karunia Allah ini.

Kemerdekaan bagi sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri adalah keinginan mendasar bagi anak manusia. Menentukan sebuah pilihan kebebasan bertindak tanpa dihantui oleh tekanan dari bangsa lain. Selain itu kemerdekaan juga bermakna melepaskan dan membuang jauh segenap penindasan manusia atas manusia. Penghinaan manusia dalam sebuah proses dehumanisasi yang menjadikan manusia bagai binatang yang terikat. Kemerdekaan adalah sebuah penghargaan terhadap eksistensi manusia yang wajib dihormati oleh siapapun, karena kemerdekaan adalah hadiah Allah yang sangat tinggi bagi manusia.

Kemerdekaan yang didahului oleh sebuah pernyataan sepihak untuk merdeka, bukanlah kalimat yang mudah terucap tanpa resiko kehilangan nyawa. Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan oleh Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur harus dibayar dengan ribuan nyawa sepanjang 1945 hingga 1949. Ucapan proklamasi ikut mengundang pihak yang merasa memiliki tanah Indonesia ini yaitu Belanda untuk menolak pernyataan merdeka sepihak tersebut. Ia datang lagi ke Indonesia dengan segenap keangkuhannya, dan ia pun membayar keangkuhan itu dengan harga yang mahal, karena rakyat Indonesia yang dihadapi bukan rakyat Indonesia yang dulu pernah ia jajah.

Sejak Peristiwa 10 Nopember di Surabaya hingga berlanjut pada Agresi Militer I dan II hingga berujung pada pertikaian Irian Barat di tahun 1961–1963, Belanda menyadari sepenuhnya bahwa kini ia menghadapi lawan yang jauh lebih siap dan jauh lebih tangguh dan kuat dari berbagai segi. Ruang kemerdekaan hakikatnya adalah sebuah ruang gerak untuk menentukan hidupnya sendiri. Kemerdekaan adalah sebuah hadiah dan anugerah Tuhan bukan sekedar daya juang manusia. Berapa banyak bangsa berjuang untuk merdeka, tetapi ketika Tuhan belum memberikan kehendakNya berupa kemerdekaan maka bangsa itu masih tetap berjuang hingga kini di berbagai belahan dunia.

Pertanyaan yang cukup menarik adalah dengan cara bagaimana sebuah bangsa mengisi ruang kosong kemerdekaan yang telah diucapkannya? bagaimana sebuah bangsa mengisi ruang-ruang kosong ini yang telah dianugerahkan Tuhan padanya? Mengisi sebuah ruang kosong bukanlah hal yang mudah, bahkan tampaknya jauh lebih sulit lagi. Setiap penghuni ruang memiliki keinginan masing-masing untuk mengatur tata letak benda di setiap sudut ruang. Setiap penghuni berdebat mendesain corak, warna hingga penempatan benda di setiap sudut ruang, mulai berdebat hingga bertikai. Hal ini juga pernah pula dialami oleh sebuah bangsa baru Indonesia yang bernama Indonesia dengan beragam pemberontakan di Tanah Air.

Jika demikian, maka kemerdekan bukan lagi bermakna kebebasan, melainkan bermakna tanggungjawab. Bagaimana setiap manausia yang merdeka bertanggungjawab untuk menciptakan sebuah ruang yang nyaman untuk ditinggali oleh setiap penghuninya tanpa saling bertikai dan bermusuhan. Kemerdekaan adalah tanggungjawab manusia terhadap Tuhan atas karuniaNya yang telah dianugerahkan, bagaimana kita menjadi lebih memiliki makna yang lebih dalam atas makna syukur atas karuniaNya yang begitu agung ini.

Musa dan Rekonstruksi Kemerdekaan

Patung anak sapi yang dibuat Samiri adalah simbol kecintaan manusia terhadap harta benda dunia yang menyilaukan mata. Sapi sendiri adalah simbol kejayaan dalam banyak peradaban manusia di Indonesia. Anak sapi yang berwujud emas merupakan simbol dari kejayaan kekayaan harta dunia yang menyilaukan mata hati setiap manusia. Manusia yang selalu silau dan haus terhadap harta benda dunia, hingga mengorbankan dan menghancurkan kemerdekaan yang telah Allah limpahkan kepada manusia sebagai anugerah.

Samiri-samiri yang bersemayam dalam dada haruslah dibuang jauh dari setiap dada dan jiwa anak bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang telah diraih dengan pengorbanan yang luar biasa haruslah disadarkan kembali ke dalam memori dan hati setiap anak bangsa Indonesia. Bahwa kemerdekaan diisi dengan rasa syukur berupa menata indah ruang yang dianugerahkan Allah kepada umat manusia. Bahwa setiap generasi manusia Indonesia wajib melihat pada perjuangan Musa a.s. yang telah berhasil menjauhkan dan membawa kaumnya merdeka dari kekuasaan Fir’aun yang menindas, melintasi Laut Merah yang membelah.

Nabi Musa a.s. adalah kisah perlawanan terhadap kezaliman yang tergambar dalam tulisan agung Kitab Suci. Ini menjadi pembelajaran manusia Indonesia untuk kembali membentuk mentalitas jiwa merdeka untuk selalu berjuang dan menyadari bahwa Allah adalah tujuan manusia hidup dan mengisi kemerdekaan yang telah Dia anugerahkan. Mempelajari kisah Nabi Musa a.s. adalah mengembalikan sekaligus menyegarkan kembali semangat dan jiwa merdeka untuk selalu melekatkan hati kepada Allah dan menjauhkan dari Samiri moderen berupa penghambaan atas dunia. 

Penghambaan atas harta benda duniawi yang disimbolkan oleh Samiri dalam wujud patung anak sapi yang terbuat dari emas tersebut menjadi sebuah pertanyaan besar kita. Apakah jiwa-jiwa Samiri itu masih tetap eksis berada dalam jiwa manusia yang merdeka? Akankah pengkhianatannya terhadap perjuangan Nabi Musa a.s. yang membawa kaum Bani Israil untuk merdeka di tanah yang dijanjikan juga kerap menyelinap dalam sanubari setiap anak bangsa?

Seberapa banyak anak bangsa yang telah mencederai kemerdekaan dengan perilaku yang tidak mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah Allah limpahkan? Maka kini perlu ditumbuhkan kembali etos dan semangat juang Nabi Musa a.s. bagi manusia Indonesia untuk mengingat bahwa Allah telah mengkaruniakan tanah subur Indonesia untuk kita olah, dan bukan untuk dirusak dengan beragam perilaku destruktif.

Mengembalikan sekaligus menyadarkan bahwa kekejaman yang tejadi di era penjajahan yang menjadikan manusia Indonesia berjuang dengan menumpahkan darah, nyawa dan harta yang dimiliki. Manusia yang tidak ingin dijajah, ditindas, dan dihina serta kekayaan alam yang dieksploitasi atas nama kepentingan manusia. Manusia Indonesia yang meyakini bahwa tanpa bersatu, berjuang dan berdoa maka Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak akan pernah hadir. Ribuan bahkan jutaan nyawa telah tumpah sepanjang 350 tahun periode penjajahan, terbayar oleh sebuah perjuangan manusia dan keyakinan yang tinggi kepada Allah. Maka menjadi hal yang wajar bahwa dalam Pembukaan UUD 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah atas berkat rakmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh sebuah keinginan luhur.

Kemerdekaan berarti membangun jiwa juga membangun badannya sesuai lirik Indonesia Raya. Membangun jiwa didahulukan kemudian diikuti oleh membangun badan tubuh fisik. Lagu kebangsaan ini mengajarkan bahwa kita perlu membangun jiwa, nilai mentalitas kesadaran akan makna kemerdekaan. Membangun sebuah kesadaran jiwa manusia, bahwa kemerdekaan diisi oleh sejumlah besar manusia yang memiliki jiwa dan etos membangun. Setiap manusia menggunakan segenap kemampuan dan kekuatan untuk menguatkan sebuah rumah bernama Indonesia sebagai tempat tinggal bersama.

Seorang seniman akan membangun Indonesia dengan jiwa seni dan keindahan yang ia miliki. Seorang guru dan kaum cendekiawan akan membangun Indonesia dengan kecerdasan intelektualnya, demikian pula dengan profesi lainnya. Membangun jiwa akan disusul oleh membangun badan fisik, membangun sisi forma bentuk, mulai dinding, jendela, hingga atap agar tampak begitu indah dan kokoh dalam menghadapi beragam bahaya yang mengancam. Menyadari bahwa Indonesia kita adalah sebuah rumah yang diisi oleh keyakinan kepada Allah dalam kebersamaan dan kegotongroyongan.

“Dan Katakanlah: Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil pasti lenyap” (Qs.[17]: 81)

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen tidak tetap pada Program Magister STKIP Arrahmaniyah Depok dan Universitas Esa Unggul. Founder dan Peneliti Islamadina Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *