Persatuan, sebuah Kesadaran Epistemologis

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Hakikat-hakikat Keragaman dan Persatuan

Keragaman kultur, religi, ras, dan etnik menjadi sebuah keunikan dalam menjalin relasi kebangsaan. Bukan sebuah hal mudah untuk menjalin sebuah ragam aneka warna kultur dalam sebuah keindahan taman. Beragam kehendak, keinginan atas latar belakang nilai kultural yang beragam memerlukan sebuah metode yang tepat guna membangun sebuah visi yang sama tentang makna Keindonesiaan.

Nilai keragaman adalah sebuah potensi yang menyatukan tetapi pada sisi lain merupakan sebuah ancaman potensial yang mampu membelah setiap kelompok dalam permusuhan. Keragaman menjadi sebuah keniscayaan dalam ruang hidup manusia, sebuah kehendak Allah untuk menciptakan ragam nilai budaya juga bahasa bagi umat manusia (Qs.[10]:13, (Qs.[30]:22).

Indonesia menjadi sebuah bentuk nyata kehendak Tuhan menjadikan ruang keragaman manusia. Untuk itu hal mendasar yang harus ditanamkan sejak dini adalah menanam nilai kesadaran akan keragaman budaya manusia. Tidak sekedar menyadarkan atas keragaman, tetapi yang terutama adalah menanamkan kesadaran atas arti penting kegotongroyongan diantara ragam makhluk Tuhan ini.

Membangun sebuah ruang kegotongroyongan, dan membangun arti penting nilai persatuan dalam setiap jiwa manusia Indonesia. Bersatunya beragam komunitas manusia di dalam sebuah ruang geografi Indonesia ini diperlukan sebagai bentuk mencegah terjadinya keretakan sosio-kultural yang akan membelah rasa Keindonesiaan kita.

Jika Ketuhanan dan Kemanusiaan adalah ontologi, maka Nilai Persatuan menjadi sebuah epistemologi atas konstruksi Falsafah Pancasila. Ia diletakkan dalam Sila Ketiga dan menjadi sebuah metode menjalin dan menghubungkan beragam ruang keragaman yang ada di Bumi Indonesia.

Nilai Persatuan dapat dimaknai sebagai sebuah kesadaran dari sebuah entitas sosio-kultural dan religi yang beragam atas ruang strategis demografi Indonesia, untuk mau berhimpun menjadi sebuah kekuatan, yang kemudian digunakan sebagai benteng perlawanan yang kukuh menghadapi beragam potensi ancaman yang hadir.

Persatuan bukanlah sekedar kesadaran semu, melainkan sebuah kesadaran etik bahwa individu yang bergotong-royong akan selalu menghasilkan nilai dan produk yang jauh lebih baik dibandingkan kerja individu. Produktivitas kerja kolektif akan mampu menghasilkan sebuah hasil yang jauh lebih baik dibandingkan kinerja individu.

Persatuan diletakkan sebagai epistemologi, sebuah metode penanaman kesadaran bahwa dibutuhkan sejumlah besar manusia beradab yang mengakui kekuasaan dan kehendak Allah atas dirinya untuk mau berhimpun dalam sebuah visi yang sama tentang Indonesia yang berkeadilan sosial.

Kesadaran atas Nilai Persatuan ini dibangun oleh sebuah hal yang paling mendasar yaitu komunal religius. Sebuah ide berfikir dalam kosmologi manusia Indonesia bahwa mereka merasa terikat oleh kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat dan dilandasi oleh semangat Ketuhanan yang kuat. Manusia yang selalu hidup dalam kebersamaan, bahwa ia tidak mungkin mampu mewujudkan setiap kehendak tanpa peran serta aktif individu lainnya.

Setiap individu memiliki fungsi dan peran yang berbeda, setiap kelompok sosial memiliki kemampuan yang beragam tetapi mereka harus tetap berada dalam satu visi yang yang sama dalam proses membangun sebuah peradaban manusia yang unggul. Setiap orang dipersatukan oleh kesamaan ide serta cita-cita juga kehendak komunal untuk mewujudkan sebuah tatanan hidup yang lebih baik.

Setiap individu dan kelompok sosial yang beragam akan memberikan kontribusinya secara optimal bagi kemajuan peradaban bangsanya. Hal ini perlu terus disadarkan bahwa nilai kegotongroyongan diantara setiap individu dan kelompok yang berbeda akan menghasilkan sebuah produk pencapaian keberhasilan yang dikehendaki.

Kebersamaan ini tumbuh kuat dalam alam sadar manusia Indonesia, dan ini menjadi modal yang sangat kuat untuk membangun gagasan persatuan. Setiap individu Indonesia memiliki sebuah kesadaran historis bahwa gagasan persatuan yang tumbuh dari jiwa komunalisme religius ini menjadi sebuah senjata dalam proses revolusi kemerdekaan. Bangsa yang mampu keluar dari himpitan kolonialisme akibat kapitalisme klasik menyadari bahwa ide gagasan persatuan ditumbuhkan untuk menghancurkan tembok tinggi kolonialisme.

KESADARAN HISTORIS

Perjalanan sejarah Indonesia beserta segenap dinamikanya telah merentang zaman. Kolonialisme yang terjadi mengajarkan banyak hal kepada setiap komponen anak bangsa, sebuah perlawanan tanpa didasari oleh ilmu pengetahuan dan persatuan akan sulit mencapai sebuah keberhasilan. Hadirnya kolonialisme menjelaskan bahwa persatuan adalah metodologi yang sangat kuat untuk menghancurkan kokohnya dinding tembok kolonialisme yang menjulang.

Kolonialisme yang telah menghancurkan segenap sendi kehidupan manusia Indonesia telah berhasil diruntuhkan oleh sebuah kekuatan persatuan beragam kelompok sosial manusia Indonesia. Persatuan ini diperkuat oleh sebuah keyakinan kuat kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa bahwa segenap usaha manusia akan ditentukan oleh kehendak absolutNya di ujung akhir sebuah perjuangan anak manusia.

Sejak awal proses kolonialisasi terjadi, sejak saat itulah perlawanan pun terjadi. Butuh waktu yang lama dengan metode separatis untuk keluar dari kolonialisme Eropa. Hingga akhirnya muncul kesadaran bahwa perjuangan tidak sekedar diwujudkan melalui kekuatan bersenjata, tetapi juga perlawanan ilmu pengetahuan yang menghasilkan sebuah metodologi persatuan.

Membangun kesadaran komunal bahwa penderitaan akibat kolonialisme membutuhkan perjuangan khusus dengan menghadirkan metodologi persatuan. Mengumpulkan seluruh komponen anak bangsa dengan beragam kemampuan untuk berhimpun dalam satu visi yang sama: terciptanya sebuah Indonesia yang merdeka. Konsep ini menghimpun berbagai kekuatan dan metodologi perjuangan baik militer, ekonomi, politik, sosial, budaya-sastra, religi dalam satu harmoni langkah perjuangan hingga berujung pada kemerdekaan.

Persatuan dibangun melalui kesadaran historis, bahwa ada sebuah arti dan nilai guna dari berhimpunnya sejumlah manusia Indonesia untuk menghancurkan tembok tinggi kolonialisme. Ia lahir dari ruang-ruang studi dimana para penstudi menuntut ilmu. Mereka membangun kembali karakter komunalisme-religius secara lebih kukuh lagi, hingga mampu menggetarkan manusia manapun yang menatapnya.

Kesadaran historis ini harus terus ditumbuhkan dalam beragam bentuk pembelajaran. Kesadaran historis mengajarkan bahwa tanpa sebuah metodologi persatuan sebagai sebuah senjata perlawanan, maka Indonesia hingga kini akan masih berada dalam kelam peradaban kolonialisme dengan beraneka penindasan yang dihadirkannya. Persatuan sebagai sebuah metodologi telah menjadi bukti empiris bagi terciptanya ruang merdeka manusia Indonesia. Kesadaran historis menjadi kunci bagi keberlangsungan sebuah kejayaan bangsa, ia mengajarkan banyak hal mengenai beragam makna perjalanan hidup berbangsa dan bernegara.Merah Putih Indonesia

KESADARAN MAKNA

Warna Merah Putih sebagai sebuah Bendera Nasional, memberi makna atas hadirnya sebuah kesadaran filosofis persatuan kosmos dalam religi Ketuhanan dan kultur Keindonesiaan.

Secara antropologis setiap benda yang dibentuk tidaklah semata objek yang diam, tetapi memiliki simbol tertentu untuk dapat dibaca melalui makna yang ditampilkan. Dalam pendekatan interaksi simbolik, setiap benda membawa pesan dan makna tertentu. Seperti halnya bendera, ia memiliki kedalaman makna yang hendak disampaikan melalui tampilan warna hingga guratan grafis.

Makna yang ditampilkan dalam simbol benda acapkali menghadirkan pemaknaan budaya dan religi tertentu. Setiap religi dan budaya menampilkan pesan melalui beragam simbol benda yang dia tampilkan. Demikian pula warna dwi warna Merah-Putih yang juga lama dikenal dengan nama bendera gulo-kelopo (gula kelapa) dalam budaya Jawa. Merah-putih adalah simbol persatuan alam dalam keseimbangan kosmos.

Merah adalah simbol gula, ia melambangkan bentang luas daratan sedangkan putih adalah simbol garam, sebuah simbol lautan yang terhampar luas. Merah adalah simbol matahari yang bersinar sejak pagi hingga petang. Putih adalah simbol eksistensi bulan yang bersinar sejak petang hingga pagi menjelang. Merah adalah simbol darah, sebuah nilai perjuangan anak bangsa untuk rela menumpahkan darah demi sebuah kejayaan. Putih adalah simbol tulang yang mengokohkan tegaknya tubuh manusia Indonesia.

Makna yang lahir dari simbologi merah dan putih seperti yang terurai diatas yaitu: selama Bumi masih berputar (Matahari terus bersinar di siang hari, selama bulan masih menyinari gelap malam). Selama daratan dan lautan masih tetap menyatu, selama darah masih tetap mengalir menyatu dengan tulang yang masih tegak tersusun kokoh.. Selama itulah Indonesia akan tetap ada..

Merah-putih bagai yin-yang dalam simbologi dan filosofi Tiongkok Kuno, ia adalah simbol berpasangan setiap entitas wujud: daratan dan lautan, malam dan siang, darah dan tulang yang kesemuanya adalah berada dalam keadaan berpasangan dan menunjukkan sebuah persatuan dan keseimbangan entitas wujud makhluk. Semua wujud selain Allah berada dalam keadaan berpasangan (Qs.[36]:36), Qs.[43]:12). Berpasangan dan bersatunya segenap entitas wujud menunjukkan sebuah kelemahan makhluk dihadapan Tuhan, bahwa makhluk membutuhkan pasangan yaitu pihak diluar dirinya untuk mewujudkan segenap kehendaknya.

Berpasangan adalah bentuk konsep dualitas makhluk hidup. Bahwa entitas makhluk ciptaan Tuhan bergerak dalam kerjasama secara seimbang. Manusia yang bergerak secara dinamis, bekerjasama begotong-royong untuk saling menguatkan sebagai sebuah kerja kelompok. Demikian pula alam semesta menunjukkan sebuah keseimbangan kerja beragam benda di alam raya yang saling mendukung. Makrokosmos dan mikrokosmos kesemuanya bekerja dalam konsep dualitas, dan hanya Allah yang tidak terikat oleh pasangan karena ia adalah Entitas Wujud Tunggal. Eksistensi Tuhan tidak terikat oleh konsep dualitas karena Dia tak terjamah oleh ruang dan waktu.

Merah-Putih menjadi simbol dualitas keseimbangan manusia (mikrokosmos) juga alam semesta (makrokosmos) yang menunjukkan berpasangannya segenap entitas makhluk dalam unsur merah dan putih. Merah Putih juga menunjukkan sebuah kesadaran religi, bahwa merah dan putih bukanlah sekedar warna identitas kultural masyarakat Nusantara, melainkan juga hadirnya simbol religius yang dapat ditelusuri dalam sebuah hadits:

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan seluruh bumi kepadaku hingga aku dapat melihatnya, baik itu bagian timur maupun bagian barat. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai bagian-bagian bumi yang telah diperlihatkannya kepadaku. Aku telah dianugerahkan dua perbendaharaan, merah dan putih (HR Muslim № 2889)

Merah-Putih bukanlah warna tanpa makna, ia mengandung sebuah makna filosofis yang dalam atas sebuah nilai perjuangan dan pengorbanan serta keyakinan religius sebuah bangsa. Ia yang telah diperjuangkan oleh ribuan ulama pejuang tanah air juga segenap manusia Indonesia dengan darah mereka. Kesadaran historis dan filosofis atas makna Indonesia ini harus tetap disuburkan dalam ruang sadar generasi Indonesia kapanpun. Bahwa membangun sebuah bangsa bukanlah semudah membalik tangan. Ia membutuhkan pengorbanan dan perjuangan tanpa henti disertai doa yang tiada berakhir.

Kini Nilai dan Ide Persatuan, kegotongroyongan dalam balutan Nilai Ketuhanan sebagai sebuah epistemologi Falsafah Pancasila, perlu dihadirkan kembali dalam dunia yang telah dan terus berubah. Epistemologi Persatuan tidak pernah usang untuk ditumbuhkan dan disemaikan dalam ruang keindonesiaan kita.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (Qs. Ar-Rum [30]:22).

Penulis adalah Peneliti dan Founder Islamadina Institute. Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen Tidak Tetap STKIP Arrahmaniyah dan Universitas Esa Unggul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *