Madinah & Pembentukan Nilai Keadaban Manusia

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

PERADABAN MADINAH
Madinah sebuah kota kuno yang sebelumnya bernama Yatsrib, terletak di jazirah Arabia, menjadi sebuah titik awal dari terciptanya pembangunan peradaban manusia. Madinah menjadi sebuah center of excellent dari sebuah komunitas manusia dan menjadi contohrole model sebuah kota berperadaban. Dari kata Madinah inilah kini kita kenal konsep Madani, sebuah konsep civil society dari satuan kelompok manusia yang berperadaban tinggi.

Madinah dikonstruksi sebagai sebuah ruang geografi yang memiliki peradaban maju. Peradaban ini diawali oleh sebuah titik momentum awal, yaitu proses berpindahnya komunitas awal Muslim di Makkah akibat tekanan penguasa setempat terhadap proses pertumbuhan awal kelompok sosial muslimin di Makkah. Nabi Muhammad Saw selaku pemimpin umat meminta kelompok sosial muslimin untuk berpindah, berhijrah menuju sebuah tempat lain, di kota lain yang berjarak sekitar 700km dari Kota Makkah.

Setiba di kota ini Nabi Saw beserta kaum muslimin yang berhijrah secara bergelombang dipersaudarakan dengan penduduk Muslim Yatsrib oleh Beliau Saw. Nabi Muhammad Saw pun segera membangun sebuah Masjid, yang kelak dikenal dengan nama Masjid Nabawi sebagai tempat ibadah dan tempat berkumpulnya sahabat dan kaum muslimin. Tidak hanya mempersaudarakan dengan penduduk asli Yatsrib, Nabi Muhammad Saw juga membentuk koalisi perdamaian dengan sesama penduduk Madinah lainnya yang beragama Yahudi.

Nama kota ini lalu diubah dari Yatsrib menjadi Madinah hingga kini, dan Madinah telah menjadi sebuah role model dari bagaimana sebuah konsep kota persaudaraan & perdamaian dibangun. Tulisan ini tidak hendak melihat Madinah sebagai sebuah sejarah, tetapi lebih melihat nilai-nilai peradaban yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw sebagai sebuah kota berperadaban.

Jatuhnya pilihan Yatsrib sebagai kota tujuan hijrah kaum muslimin Makkah tidak lain disebabkan oleh adanya kesepakatan/perjanjian antara Nabi Muhammad saw dengan penduduk Yatsrib yang menyatakan memeluk Islam. Komunitas Muslim Yatsrib yang telah terbentuk lebih memudahkan bagi Nabi Muhammad Saw untuk mengajak kaum muslimin berpindah ke sana (Ummu Salamah Ali, 2017).

Satu hal lain yang cukup menarik untuk dikaji adalah dilakukannya perjanjian perdamaian antara beragam komponan masyarakat yang hidup di Kota Madinah. Perjanjian damai itu disusun dalam sebuah Piagam yang dikenal dengan nama Piagam Madinah (Madinah Charter) atau juga dikenal sebagai Konstitusi Madinah. Piagam Konstitusi yang memuat perdamaian ini menjadi sebuah hukum tertulis yang mengusung gagasan tentang perlindungan hak asasi semua individu yang bertempat tinggal di Madinah, termasuk kebebasan untuk menjalankan agama dan keyakinan masing-masing selain berisi kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap penduduk Madinah (Ahmad Zayadi, 2013). Kebebasan menjalankan agama dan keyakinan bagi penduduk Madinah yang dicantumkan dalam Konstitusi Madinah ini menjadi sebuah tonggak bagi penghormatan yang tinggi atas pelaksanaan Hak Asasi Manusia dalam struktur religio politics di bawah naungan Islam (Muhammad Yamin, t.t.).

Hubungan antara masyarakat Muslim dengan masyarakat Yahudi di Kota Madinah dibentuk oleh sebuah kesadaran untuk membangun sebuah peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Penindasan sebagai sebuah perilaku yang umum terjadi pada masa sebelumnya diubah menjadi sebuah kesatuan umat manusia dalam ruang hidup Madinah. Struktur masyarakat yang mengutamakan pada kekuatan suku secara primordial, kini diubah dalam ruang kebersamaan dan persaudaraan melalui sebuah piagam tertulis Konstitusi.

Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah menjadi sebuah konstitusi pertama di dunia untuk membangun sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban manusia. Konsep civil society terbangun sejak terciptanya Konstitusi Madinah, dan ini menjadikan Madinah tidak saja disebut sebagai sebuah kota tetapi lebih jauh menjadikannya sebuah Negara Kota (Polis, City State) karena telah menerapkan Konstitusi.

Nabi Muhammad saw dengan demikian tidak saja berperan selaku pemimpin agama semata bagi Kaum Muslimin melainkan juga sebagai seorang Negarawan yang membangun konsep perdamaian bagi umat manusia. Sebagai pemimpin agama, maka posisi Beliau Saw adalah bentuk representasi dari kehendak absolut Tuhan, dan hal ini tidak mungkin ditiru oleh manusia pada umumnya. Tetapi sebagai seorang negarawan, Beliau Saw meletakkan konsep-konsep dasar membangun peradaban inklusif yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi siapapun.

Proses Transformasi sosial di Madinah tercipta dari bentuk masyarakat yang mengutamakan peperangan antar suku dalam penyelesaian sengketa, berubah menjadi sebuah masyarakat yang mengedepankan proses-proses musyawarah, serta perlindungan hak asasi manusia bagi beragam pemeluk agama di dalam sebuah Negara Kota Madinah. Disinilah tercipta proses rekonstruksi masyarakat yang beradab, yang ternyata telah jauh mendahului terbentuknya masyarakat berperadaban tinggi Eropa.

Nilai beragama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw tidak saja dijelaskan dalam relasi transenden dengan karakter dogmatis, melainkan juga menampilkan sisi etik sosio kultur dengan membentuk sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Kosmologi Islam bukanlah berbentuk ruang dogmatika ortodoksi semata, melainkan juga menjadi sebuah ruang nyaman bagi setiap manusia yang menempatinya dan menghuninya. Ini adalah nilai keindahan keadaban manusia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw melalui pembentukan civil societyMadinah.

Dari model pembangunan masyarakat Madinah, yang kini dikenal dengan konsep Masyarakat Madani atau civil society dapat dipetik beberapa hal penting:

Pertama, bahwa pembangunan konsep masyarakat Madani dimulai oleh sebuah proses hijrah. Proses hijrah atau perpindahan subjek dari satu titik ke titik lainnya pada dasarnya bukanlah sekedar memindahkan tubuh fisiknya semata, melainkan terdapat sebuah nilai untuk memindahkan sebuah kondisi tertentu kepada kondisi lainnya yang jauh lebih baik. Perpindahan (hijrah) seseorang adalah titik pijak untuk merubah segalanya menjadi lebih baik. Bangsa terjajah oleh praktik kolonialisme tidak akan dapat memperoleh sebuah keadaan yang lebih baik jika tidak melakukan proses hijrah berupa perpindahan keadaan terjajah menjadi merdeka melalui upaya perjuangan. Sebuah kondisi tidak mungkin berubah tanpa upaya dan daya juang tinggi untuk mau melakukan sebuah perubahan, saatnya untuk berubah (time for change).CHANGE

Merubah diri dari suatu posisi dan keadaan yang buruk menjadi keadaan yang lebih baik bukan hal yang mudah seperti membalik tangan. Proses ini membutuhkan daya tahan dan daya juang tinggi, berpindah dari satu keadaan menuju keadaan yang baru membutuhkan daya tahan dan proses adaptasi yang berat. Proses perbaikan dari sebuah keadaan menuju keadaan lain yang diharapkan lebih laksana memasuki sebuah belantara yang kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan. Untuk itu dibutuhkan persiapan, perencanaan juga strategi yang matang agar tujuan proses perpindahan membuahkan sebuah hasil yang optimal.

Kedua, bahwa pembentukan masyarakat madani (civil society) membutuhkan pula proses adaptasi pada sebuah tempat dengan beragam nilai-nilainya yang mungkin sangat berbeda dengan kondisi yang lama. Proses hijrah seseorang dari sebuah kondisi awal menuju sebuah kondisi baru memerlukan ketahanan diri untuk mau menerima segala hal baru dihadapannya. Nilai dan norma yang baru, kondisi sosio-kultur yang baru, bahasa yang mungkin berbeda, juga kondisi lingkungan alam yang baru harus mampu diterima oleh pelaku-pelaku perubahan. Perubahan acapkali menimbulkan friksi dan konflik, karena menjalani proses perubahan di tahap awal bukanlah hal yang mudah.

Kondisi yang nyaman di tempat yang lama, kondisi yang sudah mapan di tempat lama harus ditinggalkan untuk memperoleh sesuatu yang dirasakan jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang telah diterima selama ini menjadi sebuah hambatan besar seseorang untuk mampu keluar dari zona nyaman. Dalam keadaan ini, maka tekad kuat dan keyakinan atas sebuah harapan baru dan cita-cita untuk menjadi lebih baik dari apa yang telah diperolehnya haruslah terus ditanamkan kuat dalam diri.

Ketiga, bahwa proses perpindahan dari suatu kondisi menuju kondisi yang baru memerlukan proses adaptasi yang luar biasa. Untuk itu Nabi Saw melakukan proses persaudaraan, mempersaudarakan antara kaum yang berpindah (muhajirin) dengan kelompok sosial yang menerima perubahan (anshar). Proses perpindahan acapkali menimbulkan konflik diantara kelompok sosial yang bermigrasi dengan kelompok sosial yang menerima kaum pendatang. Untuk itu Nabi Saw mencontohkan melalui proses persaudaraan diantara kaum pendatang dan penduduk lokal. Kaum pendatang membutuhkan sebuah penerimaan di lingkungan sosial yang baru. Untuk itu ia harus mampu melakukan proses-proses “persaudaraan” dengan penduduk lokal.

Keempat, membangun sebuah simbol sosio-kultural sebagai tanda pengingat bahwa perjuangan untuk berpindah dan berubah menjadi lebih baik harus selalu terus dilakukan. Dalam hal ini Nabi Saw membangun masjid Nabawi yang berfungsi tidak saja sebagai tempat peribadatan, melainkan juga simbol dan makna perjuangan. Masjid Nabawi digunakan oleh Nabi Saw sebagai titik awal digulirkannya pembangunan manusia berperadaban, dan masjid sebagai center of excellent dari pembangunan sosiokultur dan religi manusia seutuhnya.

Kelima, pembentukan perjanjian damai melalui piagam perdamaian. Piagam Perdamaian Madinah atau Konstitusi Madinah menjadi titik tonggak dibangunnya perdamaian diantara beragam kelompok sosial yang ada. Perdamaian perlu diciptakan dan terus dikembangkan diantara beragam manusia yang ada di hidup di dalam kelompok sosial yang ada. Beragam kelompok sosial yang ada di tengah masyarakat memiliki beragam nilai dan normanya sendiri, hal ini akan berpotensi menimbulkan benturan-benturan sosial antar kelompok sosial di kemudian hari jika tidak didukung oleh sebuah kesepahaman dan perdamaian.

Pada keadaan ini, maka perdamaian perlu diciptakan diantara beragam kelompok sosial yang hidup di dalamnya. Masing-masing memiliki kebebasan untuk menjalankan ekspresi kebudayaannya juga keyakinan agamanya, tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak yang lain. Perdamaian antara beragam kelompok sosial dibangun untuk dapat bekerjasama secara aktif, menumbuhkan solidaritas diantara beragam kelompok sosial yang memiliki warna budaya dan religi berbeda.

Perdamaian ini pada hakikatnya adalah bentuk dari bagaimana setiap kelompok menjunjung tinggi hak asasi setiap kelompok sosial, juga sebagai bentuk aktif dari gerak setiap kelompok sosial untuk saling bekerjasama dan berbagi, menciptakan sebuah bentuk kegotong-royongan diantara beragam kelompok sosial yang hidup bersama.

Penulis adalah Dosen tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen tidak tetap Universitas Esa Unggul dan STKIP Arrahmaniyah. Co-Founder Forum Internalisasi Nilai-Nilai Kebangsaan (FORNIKA). Founder & Peneliti pada Islamadina Institut

One thought on “Madinah & Pembentukan Nilai Keadaban Manusia

  1. Assalamulaikum wr wb
    Tk pak Fokky tulisan y bagus , manambah wawasan keilnusn yg syarat mengandung nilai nilai religius
    Bahwa HAM , nilai peradaban dan hijrah penduduk pendatang dg lokal menyatu yg diikat dg nilai persaudaraan , kebersamaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *