Tuhan Epistemologis

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

Ide dan gagasan tentang Tuhan dan beragam pertanyaan tentangNya muncul bersamaan dengan hadirnya manusia itu sendiri. Gagasan imajinasi manusia berupaya menangkap dan menterjemahkan Tuhan di dalam bayang akalnya, karena Dia tidak pernah hadir dalam wujud fisikNya. Konsep dan ragam bentuk struktur imajinasi tentang Tuhan memiliki beberapa kesamaan dalam banyak kebudayaan manusia di dunia. Ia adalah Sang Adi Kodrati yang menunjukkan sebuah kemampuan mengendalikan, mengatur segala kosmos. Tuhan diyakini adalah entitas absolut yang bahkan tak terjangkau oleh ranah akal manusia yang berkehendak.

Ide tentang Tuhan menciptakan beragam kombinasi imajinasi konsep tentang Tuhan dalam benak akal manusia. Tuhan dalam Ontologi begitu tak terjangkau oleh relativitas akal, sehingga manusia hanya menggunakan daya imajinasi untuk membayangkan wujud Tuhan Sang Mahakuasa atas alam. Ruang imajinasi akal manusia tidak pernah sepi dari konsep-konsep ontologi Tuhan yang ia bangun di dalam kepalanya. Karena Tuhan ontologi tak terjangkau, maka manusia berupaya mewujudkan Tuhan ontologi yang lebih ia fahami. Tuhan dalam wujud yang ia mampu jangkau untuk lebih mampu memaknai struktur Tuhan itu sendiri.

Ruang Tuhan ontologis ini menghasilkan beragam produk tuhan hasil kreasi imajinasi akal atas konstruksi makna tuhan dalam benaknya. Tuhan dalam produk akal inilah yang kemudian memunculkan konsep berhala (pembendaan Tuhan) dalam sejarah peradaban manusia. Tuhan yang ia produksi sendiri agar lebih mudah difahami, dimengerti, yang sesungguhnya benda-benda itu pada awalnya hanyalah simbol eksistensi Tuhan yang sesungguhnya, yang tak terjangkau akal manusia. Dalam wujud tuhan yang dibendakan inilah kemudian manusia lebih mudah memahami Tuhan, Dia yang lebih mudah dijelaskan oleh pendekatan empiri pancaindera. Sehingga wujud tuhan benda yang awalnya hanyalah simbol Tuhan, kini berubah menjadi tuhan yang sesungguhnya dalam benaknya.

Terdapat hal menarik untuk dicermati dari konsep imajinasi tuhan yang dibangun oleh peradaban manusia itu, bahwa Tuhan tidak pernah lepas dari ruang rasionalitas akal manusia sama sekali. Yang terjadi adalah keragaman konsep tentang tuhan karena Dia diciptakan dan dibangun di dalam benak manusia yang beragam. Batu, kayu, hewan, makhluk halus, laut, gunung, tanah, lembah, patung menjadi tuhan yang diciptakan manusia. Disinilah hakikatnya akal telah membawa manusia dalam proses sesat fikir (syirk) akan hakikat Tuhan. Untuk itu Dia (Allah) sendiri yang harus hadir untuk menjelaskan diriNya sendiri.

Tuhan hadir dalam pesan-pesan yang dibawa oleh para utusanNya (Nabi dan Rasul) untuk menjelaskan hakikat DiriNya melalui narasi Kitab Suci (Zabur, Taurat, Injil hingga al-Qur’an). Dia hadir melalui ratusan utusanNya menjelaskan eksistensi DiriNya kepada manusia, Narasi teks Kitab Suci menjelaskan hakikat Tuhan secara ontologi (Tuhan dalam wujud DzatNya), hingga hakikat Tuhan dalam epistemologi (Tuhan yang hadir dalam akal dan rasa). Tuhanlah yang memperkenalkan diriNya kepada manusia melalui perantaraan utusanNya untuk menyampaikan Kitab Suci (Qs.[59]:22–24).

Ketika Nabi Ibrahim a.s. berupaya mengenal Tuhan (Qs.[6]:76–78) hakikatnya juga menunjukkan gambaran perjalanan peradaban sejarah umat manusia dalam upaya mencari Tuhan. Nabi Ibrahim a.s. mengenalNya hakikatnya menunjukkan sebuah simbol proses pencarian manusia dalam mengenal Sang Adi Kodrati, dan terbukti bahwa manusia tersesat dalam menggapai Tuhan, sekelompok manusia menuhankan bulan, sekelompok lainnya menuhankan matahari, dan benda lainnya. Untuk itu maka Dia, Allah sendiri hadir memperkenalkan diriNya kepada manusia.

Hanya manusia dengan kualitas tertentu, seperti Rasulullah Muhammad Saw yang memiliki pengetahuan Tuhan Ontologis, Allah dalam wujudNya, yaitu ketika Beliau Saw melakukan perjalanan Isra-Mi’raj berhadapan dan melakukan dialog langsung dengan Tuhan. Manusia, selain Nabi dan Rasul seperti halnya Rasulullah Saw, dengan kualitas kemanusiaannya kini hanya dapat mencoba mengenalNya melalui narasi Kitab Suci. Tuhan hanya hadir melalui wujud-wujud selainNya (bintang, bulan, matahari, dan alam semesta) sebagai tanda-tanda dan bukti empiris kehadiranNya (Qs.[3]: 190, [45]:13).

Bukti empiris menuntut kerja akal dalam menggapai hakikat Tuhan. Dia terselimuti oleh tabir yang tak tertangkap pancaindera, dan manusia mencoba mengenalNya dengan dua cara, yaitu akal dan hati. Daya guna kerja akal pada hakikatnya mendukung kerja pancaindera memahami Tuhan Ontologis dalam segenap ciptaanNya. Hati menjadi hal yang menarik, karena disinilah letak epistemologi Tuhan bekerja, Tuhan dalam pemahaman kerja akal dan hati manusia. Tuhan hadir dalam setiap akal dan hati manusia, Dia didekati melalui sebuah kedalaman hati dan ketinggian, yaitu keyakinan atau iman(faith).

Ide Tuhan Ontologis yang tak terjawab oleh akal bahkan hati sekalipun dapat difahami dengan hadirnya Tuhan dalam epistemologi. Dia yang hanya dapat dirasakan hadirNya oleh akal dan hati, bagaimana kita merasakan kehadiran Tuhan dalam jiwa. Maka akal dan hati kini bekerja menjawab beragam pertanyaan mengenai Tuhan. Kategori Tuhan epistemologis inilah yang didialogkan oleh kerja akal dan hati. Kerja, sifat-sifat Tuhan, kehadiran benda alam semesta sebagai sebuah sign atau tanda-tanda kebesaranNya didialogkan dalam sejarah perjalanan peradaban manusia.

Meletakkan ide Tuhan merupakan bentuk dari kesadaran metafisika atas diri manusia dan alam semesta. Alam yang mengada, bergerak, berputar, berotasi menunjukkan sebuah ide metafisika, sebuah pemahaman atas sebuah kerja entitas tertentu yang melampaui (beyond) kerja ide fisik. Bahwa manusia memahami ada sebuah kehendak tertinggi yang melampaui segala yang nyata sebagai ide fisik bagi manusia dan alam semesta.

Tasawuf dan Ide Tuhan Epistemologis

Tasawuf adalah sebuah ilmu yang memahami diri pribadi manusia, menelaah ke dalam jiwa manusia untuk mengetahui hakikat manusia dihadapan Tuhan. Tasawuf menjadi sebuah ilmu yang mencoba menelaah relasi manusia dan Tuhan, juga menelaah ke dalam sisi batiniyah manusia terdalam dalam hubungannya dengan sesamanya, serta sebuah metode untuk mendekatkan diri pada nilai moral dan etika (Chiabotti, eds., 2017:6). Ia dapat menjadi sebuah epistemologi untuk memahami makna bertuhan manusia, memahami sejauh mana manusia mampu menempatkan ide Tuhan dalam dirinya. Tuhan bukanlah hal asing dalam gagasan tasawuf, Tuhan adalah ide utama keilmuan tasawuf yang mengajak manusia selalu melekatkan jiwa bersamaNya.

Ide Tuhan epistemologis ini menjadi diskursus dalam perdebatan akal manusia. Dia Tuhan yang digambarkan dalam kesadaran nalar manusia, kesadaran yang muncul atas eksistensi Tuhan yang hendak dicapai oleh nalar manusia. Para ideolog ekstrim juga kerap menggenggam intepretasi makna Tuhan dalam imajinasinya, lalu acapkali pula menghadirkan interpretasi itu dalam bentuk yang destruktif bagi kemanusiaan. Para ideolog yang telah mengabsolutkan pemikirannya, tetapi tidak mengabsolutkan Tuhan itu sendiri.

Ide Tuhan dalam epistemologi (Tuhan dalam pendekatan akal fikir, dan hati manusia) coba digagas dalam beragam pemahaman. Manusia dengan segenap pemahamannya mencoba untuk melihat eksistensi Tuhan dalam keragaman berfikir manusia. Manusia yang berupaya meletakkan sifat-sifat Tuhan ke dalam dirinya, dan berupaya untuk menekan ego kemanusiaannya. Sifat-sifat Tuhan adalah teladan perilaku dalam akal fikir manusia, menentukan arah perbuatan menuju pada apa yang dikehendaki oleh Tuhan di dalam dirinya.

Sifat Tuhan dalam keagungan ditiru dan dicoba diwujudkan dalam sifat partikular manusia. Kesucian Tuhan yang tercermin dari sifat Mahasuci dicoba untuk diteladani melalui sifat-sifat kesucian manusia (Qs.[91]:9–10). Tentunya bukanlah sebuah kesebandingan antara sifat Tuhan yang absolut dan sifat manusia yang relatif, karena keduanya tak dapat dibandingkan. Dalam hal ini manusia mencoba meletakkan sifatNya ke dalam dirinya selaku manusia dengan segenap kemanusiaannya.

Meletakkan ide Tuhan tidak berarti meletakkan kebesaran Tuhan dalam diri manusia, Dia tetap tak terjangkau oleh nalar rasio akal manusia. Maka jalan terbaik meletakkan ide Tuhan hanyalah dalam bentuk meneladaninya dalam sifat. Tuhan yang bekerja dalam hati manusia dirasakan hadirNya. Bahwa manusia hanyalah dan alam hanyalah ketidakpastian, relativitas makhluk yang melangkah dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh Tuhan. Dia yang mengendalikan manusia dengan kekuasaanNya (Qs.[2]: 284), sekaligus kelemahlembutanNya (Qs.[3]:159).Allah itu Maha Lemah lembut dan mencintai kelembutan (HR. Bukhari).

Mahakuasa menunjukkan sebuah sisi maskulinitas Allah dalam berbuat dan bertindak. Maha Lemah lembut menunjukkan sisi feminitas Allah dalam berbuat. Maskulinitas disimbolkan melalui hadirnya neraka yang menghukum, sedangkan sisi kelembutanNya diwujudkan dalam bentuk surga yang penuh dengan kasih-sayang. Maskulinitas dihadirkan melaluisyariah yang tegas, sedangkan feminitas dihadirkan melalui tasawuf yang penuh cinta.

Tasawuf menjadi sebuah metodologi keindahan yang menghadirkan Tuhan yang penuh kasih sayang dan cinta kasih. Allah merupakan entitas absolut yang hadir dengan kasih sayang yang absolut pula. Allah menunjukkan sebuah kasih sayang yang melampaui kemurkaanNya, Sesungguhnya rahmatKu melampaui kemurkaanKu(HR. Muslim № 2751). Sebuah proses bertindak Tuhan yang penuh kasih sayang, kelembutan, dan cinta. Sifat ini masuk menginternalisasi jiwa manusia terdalam sekaligus menjadi metodologi sikap tindak manusia.

Meletakkan ide Tuhan epistemologis yang penuh kelembutan dalam sisi kemanusiaan manusia memberikan sebuah pemahaman bahwa setiap titik manusia adalah kehendak Tuhan. Bahwa Dia menjadi causa atas gerak kosmos. Gerak manusia yang berkehendak selalu dalam jangkauan pengetahuanNya.

Tuhan hadir dalam bentuk yang lemah-lembut menjadi sebuah metodologi perilaku aktif manusia. Ia menundukkan ruang ego, menekannya hingga ke dasar. Manusia hanyalah entitas yang mengada, hadirnya semata atas hadirNya. Manusia yang memginternalisasi dirinya dengan ide Tuhan yang penuh kasih-sayang ini juga mengajarkan sebuah nilai berbagi menyebarkan kasih sayang bagi sesama makhluk Allah di bumi.

Manusia mencoba mengarahkan jiwa batiniyahnya sesuai dengan kasih sayang yang ditanamkan olehNya. Manusia menjadi titik utama untuk mendistribusikan Cahaya Tuhan bagi sesama makhluk. Menerangi dan memberikan kehangatan Cahaya Tuhan bagi dunia yang selalu dia pijak. Manusia memposisikan dirinya sebagai zat ketiadaan dalam berhadapan dengan Tuhan. Manusia yang terpenjara oleh ruang meletakkan ide Tuhan untuk melepaskan dirinya dari keterpenjaraannya. Manusia hanyalah tetes air yang lebur di tengah lautan yang sangat luas, ia menjadi kehilangan eksistensi wujudnya dihadapan wujud hakiki Tuhan. Eksistensi keunggulan dan baik buruknya manusia hakikatnya adalah karena penilaian Tuhan terhadap diri manusia, dan bukan penilaian manusia atas dirinya sendiri (Abrahamov, 2003:52).

Manusia dan segenap eksistensi kosmos yang hadir semata hanyalah menjadi petunjuk, kosmos dan segenap eksistensinya mengarahkan pada eksistensi ontologi Allah yang tersembunyi di dalam tabir. Maka kini manusia mencoba menelaah, memahami kerja Allah pada alam semesta. Manusia yang menjejak langkah di bumi yang selalu meletakkan Allah di setiap gerak dan fikirnya. Epistemologi gerak akal manusia yang selalu meletakkan ide cinta Tuhan di dalamnya.

Ketika Syaikh Siti Jenar meletakkan konsep manunggaling kawula gusti, tentu yang digagas bukanlah Tuhan ontologis (Tuhan dalam Wujud). Dia meletakkan konsep Tuhan epistemologis (Tuhan dalam akal dan rasa dalam bentuk kasih sayangNya) yang dilekatkan erat dalam hati dan jiwa manusia terdalam. Tuhan ontologis tidak mungkin menyatu dalam relativitas raga manusia, tetapi rahmat,rahman dan rahim Allah yang dirasakannya selalu melekat dalam hati dan gerak manusia terdalam. Inilah hakikat jiwa terdalam, bahwa eksistensi jiwa manusia yang selalu diisi oleh rasa Ketuhanan, manusia yang selalu merasakan hadirnya Allah di dalam hatinya. Hakikat manusia yang selalu merasa di tengah lautan rahman dan rahimNya.

Ketika Muhyiddin ibn Arabi meletakkan gagasan bahwa kesemua yang ada hanyalah wujud Allah sebagai wujud tunggal, yang lain hanyalah maujudatau wujud-wujud tak nyata, maka dia menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia hanyalah entitas wujud yang tak bermakna dihadapan keagunganNya. Ia bagai setetes air yang menghilang tanpa makna ketika ia menetes di tengah samudera luas. Apa yang dapat dibanggakan oleh manusia dihadapan Allah? Manusia hanyalah ketiadaan dan kehilangan eksistensi jika berdiri dihadapan eksistensiNya. Dunia hanyalah cermin kehadiranNya, dunia dan segala kemegahannya adalah cermin dari kemegahan Tuhan itu sendiri (Fadiman & Frager, 1998:74). Bukan manusia dan dunia ini yang agung, tetap Dia yang sesungguhnya Maha Agung.

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (Qs. an-Nisa [4]: 28).

Penulis adalah Dosen Tetap Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia. Dosen Tidak Tetap STKIP Arrahmaniyah. Co-Founder Forum Internalisasi Nilai-nilai Kebangsaan (FORNIKA). Founder Islamadina Institute.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *