Achmad Dachlan & Gagasan Transformatif

K.H. Achmad Dachlan (1863–1923) salah seorang ulama besar Indonesia merupakan contoh konkrit sekaligus bentuk nyata dari bagaimana keimanan dilaksanakan dan diterapkan. Relasi sejarah Indonesia yang diliputi oleh penjajahan melahirkan sebuah perlawanan terhadapnya melalui sebuah proses transformasi masyarakat.”

KH Achmad Dachlan

Kondisi masyarakat yang bodoh dan terbelakang di era penjajahan, dilawan oleh beliau melalui al-Qur’an Surah al-Mauun. Beliau tidak membuat narasi tafsir, melainkan mewujudkan surah tersebut melalui gerak aktif. Ia menjalankan proses aktif bunyi narasi Kitab Suci melalui sebuah perubahan sosial. Ia mencoba menelaah, memahami, hingga menjalankan narasi surah berupa usaha aktif menolong masyarakat yang tertimpa kesusahan melalui sebuah amal usaha.

Relasi narasi Kitab Suci melalui amal usaha merubah dan mentransformasi masyarakat untuk bangkit dari ketertinggalan dan kebodohan. Bahwa Kitab Suci di tangan beliau bukan sekedar rangkaian kata, melainkan juga peringatan atas adanya kondisi manusia yang terbelakang yang harus diubah oleh manusia pelaku ibadah.

Sebuah proses rekayasa sosial untuk menciptakan masyarakat yang tertinggal melalui narasi teks yang diwujudkan dalam tindakan nyata berupa amal usaha. Narasi teks Kitab Suci bukanlah sekedar serangkaian gerak laku peribadatan batiniyah transendental manusia dengan Tuhan, melainkan juga konstruksi daya juang anak manusia untuk merubah masyarakat dari ketertinggalan.

Agama merupakan sebuah dinamika ruang gerak perubahan sosial. Gagasan pemikirannya untuk membumikan nilai-nilai yang terdapat dalam Kitab Suci al-Qur’an diwujudkannya dalam pendirian amal usaha Muhammadiyah. Organisasi ini lahir tahun 1912 dari kesadaran anak peradaban masyarakat terjajah. Melalui praktik narasi Kitab Suci, K.H. Achmad Dahlan mendorong proses penyadaran sosial melalui pendidikan yang mencerdaskan, balai kesehatan untuk menolong warga miskin, kemandirian ekonomi perniagaan bagi kaum pribumi terjajah kala itu.

Inilah hakikat manusia yang menjalankan ibadah, bahwa ibadahnya bukanlah semata berbentuk ruang tertutup elitis pribadi antara dirinya dan Tuhan. Lebih jauh dari itu, bahwa ibadahnya adalah bentuk pelayanan Cinta Tuhan kepada sesama manusia yang tertindas dalam peradaban. Bahwa agama bukanlah rangkaian teks naratif semata, tetapi juga daya juang manusia untuk mampu merubah dirinya dan sesamanya dalam sebuah rangkaian perubahan transformasi sosial. Keyakinan kepada besarnya kasih-sayang Tuhan diwujudkan dengan pelayanan kasih-sayang kepada sesama manusia.

KH Achmad Dachlan termotivasi oleh sebuah narasi teks Kitab Suci al-Qur’an, Surah al-Mauun:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?/Maka itulah orang yang menghardik anak yatim/dan tidak mendorong memberi makan orang miskin/Maka celakalah orang yang salat/(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya/yang berbuat ria/dan enggan (memberikan) bantuan.”

Para pelaku ibadah yang dituding Tuhan sebagai pendusta, karena ia tak peduli terhadap penderitaan manusia. Ia tekun beribadah, tetapi ia lalai bahwa di sekelilingnya begitu banyak manusia menderita. Ia tak memberikan uluran tangan kepada sesamanya yang menderita.

Sebuah kalimat Tuhan yang menjadi spirit kemanusiaan bagi seorang ulama besar murid Syaikh al-Minangkabawi tersebut. Narasi itu bukan sekedar berkarakter ideologis, tetapi juga humanis untuk mau peduli pada nasib manusia yang tertindas. Sebuah kalam Tuhan sebagai otokritik kepada manusia yang mengaku berTuhan tetapi menjauh dari arena sosial. Ayat-ayat inilah yang membangkitkan semangat kemanusiaan seorang Kyai Achmad Dachlan. Ia bergerak bersama para murid dan santrinya untuk melakukan pertolongan kemanusiaan. Inilah momentum beliau mendirikan dan membangun Organisasi Muhammadiyah bagi kemanusiaan

Narasi tekstual Kitab Suci di tangan seorang ulama K.H. Achmad Dahlan hadir dalam bentuk perilaku. Ia tidak sekedar dihafalkan, atau sekedar didebatkan dalam perdebatan fiqh, tetapi sejauhmana ia mampu merubah kesadaran kita bahwa berjuta manusia hidup dalam kesulitan dan penderitaan.

Sejauh apa narasi Kalam Tuhan mampu menciptakan tatanan sosial manusia yang lebih adil, lebih beradab. Inilah bentuk bentuk beragama secara teosentris antroposentris humanis. Beragama yang menunjukkan perpaduan kesalehan individu dan sosial secara seimbang. Beragama adalah merekonstruksi perilaku manusia agar berguna bagi kemanusiaan, membangun sebuah peradaban yang lebih adil.

BerIslam berarti memahami penderitaan manusia, mengerti bahwa banyak ruang sosial manusia tercipta sebuah proses dehumanisasi, dan beragam pelanggaran hak yang menimpa manusia. Berislam adalah bagaimana membumikan semangat Kitab Suci bagi kebermanfaatan manusia. Sebuah kebahagiaan bagi sesama sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Tuhannya dan bagi penyemaian nilai-nilai kemanusiaan.

Achmad Dachlan mengintroduksi sebuah pengalaman beragama yang bermashlahat, sebuah dunia yang dia ciptakan dengan ide Ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Kini hasil dari apa yang beliau tanamkan telah tumbuh subur menghijau bagi kemanusiaan. Beliau tidak sempat menikmati hasil perjuangannya melalui organisasi Muhammadiyah yang dilahirkannya. Masyarakatlah kini yang telah merasakan hadirnya narasi teks Kitab Suci dalam bentuk yang nyata bagi kemanusiaan.

Setelah lebih dari 100 Tahun hasil kerja dan pemikiran pembumian nilai-nilai al-Qur’an bagi kemanusiaan melalui Organisasi Muhammadiyah tersebut telah menghasilkan sebuah karya nyata. Ratusan perguruan tinggi telah berhasil didirikan, ribuan sekolah mulai Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas telah tercipta, puluhan pondok pesantren telah didirikan. Tidak saja lapangan pendidikan, melainkan juga puluhan rumah sakit dan balai kesehatan, juga puluhan lembaga perlindungan anak yatim dan panti jompo yang beliau bangun telah beliau dirikan. Masih banyak lagi lembaga sosial yang kini telah mampu memberdayakan masyarakat yang terpinggirkan.

Proses pembumian nilai Qur’an bagi kemanusiaan ini telah mampu memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kualitas manusia Indonesia. Disinilah sesungguhnya proses kemajuan peradaban manusia dicetuskan, bahwa manusia membutuhkan sebuah ruang sosial yang lebih baik dan nyaman untuk dihuni. Sebuah penciptaan ruang sosial yang lebih adil bagi masyarakat yang termarjinalkan, serta membangun sebuah kesadaran bertanah air secara positif melalui kontribusi bagi kemanusiaan dalam peran aktif seorang anak manusia.

Dari rahim Muhammadiyah yang ia dirikan telah lahir pula banyak tokoh yang ikut mengharumkan nama Bangsa dan beberapa telah menjadi Pahlawan Nasional: Jenderal Besar Soedirman, Ibu Fatmawati, Ulama Mufasir sekaligus sastrawan besar Buya Hamka, Ki Bagus Hadikusumo, Ketua KNIP Meester in de Rechten Kasman Singodimedjo, Prof. KH Abdul Kahar Muzakir dan masih banyak lagi. KH Achmad Dachlan telah mengajarkan kedalaman sebuah perilaku beragama bahwa beragama itu cerdas sekaligus turut mencerdaskan orang lain.

Kini organisasi yang beliau bangun bahkan telah menjadi salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia. Inilah hakikat beragama, bahwa beragama haruslah mampu merubah ruang sosialnya menjadi sebuah ruang hidup bersama yang jauh lebih baik. Bahwa perilaku beragama selayaknya pula mendorong kemajuan peradaban sebuah bangsa.

Sebuah metodologi beragama dihadirkan secara tekstual sekaligus kontekstual. Beliau mampu membumikan Bahasa Tuhan dalam tataran aplikatif. Beliau mampu pula menyerap kebutuhan masyarakat di zamannya atas begitu banyaknya ruang keadilan yang harus didistribusikan. Beliau memang tidak menulis banyak narasi kitab hadits atau kitab fiqh, tetapi beliau menghadirkan aplikasi dari narasi kitab itu sendiri. Beliau membumikan Kalam Tuhan dan sekaligus mendistribusikannya demi kepentingan manusia.

Kita masih perlu belajar banyak dari akal fikir dan gerak aktif seorang KH Achmad Dahlan bagi perubahan sosio kultur manusia. Bahwa ketika kita acapkali masih saja terpaku memperdebatkan rangkaian metode ideologis tata cara ibadah, seratus tahun lalu beliau sudah melangkah sangat jauh, yaitu menciptakan sebuah transformasi sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *