About

BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM..

Rekan-rekan pemerhati Kebangsaan, bersama dengan lahirnya Republik Indonesia disadari atau tidak, peran ulama dan umat Islam dalam merebut kemerdekaan hingga upaya mempertahankannya melalui Perjuangan 10 Nopember 1945, hingga menghadapi upaya Belanda melalui Class Action I dan II tidaklah terbantahkan.

Kesadaran Keislaman Kebangsaan juga terbangun oleh para Ulama dan para Bapak Bangsa pendiri Repubik Indonesia, seperti: Tjokroaminoto, Bung Karno, Bung Hatta, Buya Hamka, M. Natsir, KH Hasyim Asyari, Jenderal Besar Soedirman, dll.

Keislaman dibuktikan dengan kecintaan kepada tanah airnya, hubbul wathon minal iman, begitulah ulama menggelorakan semangat kebangsaan yang selalu terikat dengan keimanan kepada Allah Yang Maha Esa. Keislaman bukanlah perilaku eksklusif yang melahirkan ego dan ketidakpedulian terhadap saudara sebangsanya yang menderita. Keislaman diwujudkan dengan kepedulian terhadap bangsa dan negara tercintanya.

Para ulama membuktikan rasa kecintaannya terhadap bangsanya melalui pengorbanan jiwa mereka dalam merebut dan mempertahankan Indonesia tercinta. Pada sisi yang lain, rasa semangat keislaman dan kebangsaan saat ini menghadapi berbagai problema. Banyak pihak yang hendak memisahkan kecintaan terhadap negara dengan rasa cintanya kepada Tuhannya.

Pemikiran dan perilaku ekstrimisme yang meluluhlantakkan nilai keindahan Islam telah menodai nilai kejuangan para leluhur umat dan bangsa. Pada sisi lainnya telah muncul tudingan bahwa umat Islam adalah umat intoleran. Kedua hal ini menjadi tantangan bagi generasi saat ini untuk membuktikan keduanya. Islam ada dan bertumbuh di bumi dan tanah air Indonesia adalah untuk membangun manusia-manusia yang beradab dengan berlandaskan kecintaan kepada Tuhan dan tanah airnya.

Dengan dilandasi oleh semangat kecintaan kepada Tuhan dan Tanah Air Indonesia inilah, lahir Pusat Kajian Keislaman Kebangsaan yang diberi nama Islamadina Institut pada Hari Jumat, 3 Juli 2020/24 Dzulqa’dah 1441 H.